Telat Beli Gadget Untuk Belajar Daring, Anak Pedagang Cilok Harus Rela Dimutasi Dari Sekolah -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Telat Beli Gadget Untuk Belajar Daring, Anak Pedagang Cilok Harus Rela Dimutasi Dari Sekolah

Saturday, February 13, 2021

 

Gambar Ilustrasi (Editor: Redaksi)

Indikatoralor.com - Siswa Kelas XII SMAN 1 Kedungpring, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan NL akhirnya harus menelan pil pahit jelang ujian akhir SMA.  Minggu (14/02/2020)


Remaja yang merupakan anak sulung dari tiga bersaudara ini ketika ditemu wartawan mengakui terpaksa dipindahkan dari SMAN 1 Kedungpring karena bermasalah dalam mengerjakan tugas sekolahnya.


"Saya diarahkan oleh pihak sekolah untuk mutasi ke sekolah lain karena bermasalah dengan nilai beberapa mata pelajaran di sekolah," kata NL.


Lebih lanjut, NL mengakui keterlambatan penyelesaian tugas sekolah ini lantaran Space dan RAM Handphonenya yang tak cukup untuk dipakai dalam mengikuti proses belajar berbasis Daring dan terlambat dibelikan Hp baru oleh orangtuanya yang hanya berprofesi sebagai pedagang cilok.


"RAM sama Space HPku gak cukup pak buat ngikuti pembelajaran berbasis daring," ungkapnya.


Senada dengan NL, LH selaku ayah dari NL turut angkat bicara. LH yang saat ini menggeluti usaha berjualan cilok ini mengaku sedikit kesulitan lantaran dengan pemasukan yang relatif menurun dimasa pandemi Covid-19 ini membuat dirinya terpaksa harus kerepotan memenuhi kebutuhan 3 anaknya yang saat ini menjalankan proses belajar berbasis Daring.


"Saya selaku wali murid yang secara tingkat kemampuan ekonomi terbatas ini agak kesulitan pak dengan sistem pembelajaran berbasis Daring yang berlaku saat ini. Bayangkan dengan hasil jualan yang nggak  seberapa, saya harus ngisi kuota internet sama belikan Hp yang bagus buat anak - anak ya agak sedikit sulit. Ini kan masih corona," ketus LH.


LH dalam wawancara ini juga sangat menyayangkan keputusan yang telah dikeluarkan oleh pihak guru karena tidak dapat memaklumi kondisi putranya hingga akhirnya harus dipindahkan dari SMA N 1 Kedungpring.


Sementara itu, Sekertaris Komisi D DPRD Kabupaten Lamongan Fraksi Partai Amanat Nasional Matlubur Rifa' S.HI, M.Pd. yang dihubungi via whatsapp messanger turut memberi komentar. Menurutnya, persoalan terkait lembaga pendidikan tingkat SMA merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi. 


"Jika penanganan pendidikan tingkat SMA ya wewenangnya pemerintah Provinsi Jawa timur Mas," pungkas Kader PAN Jatim ini.


Sambungnya, "Perlu diketahui juga bahwa untuk Paket Internet sejak September lalu sudah ada bantuan Kuota Internet dari Kemendikbud. Menteri Nadiem dikasi dana 7,2 Triliun untuk bulan september dan Desember Tahun 2020 untuk bantu mereka ini, berarti nggak sampek. Atau jangan - jangan nomor ponsel peserta didik ini tidak diarahkan untuk didaftarkan ?,"


Matlubur Rifa' diakhir tanggapannya menyampaikan bahwa jika kejadian ini benar terjadi, bisa jadi berita nasional, apalagi sampai kepala sekolah memindahkan siswa tersebut.


Hingga berita ini dinaikkan, tim wartawan masih berupaya untuk menghubungi pihak SMAN 1 Kedungpring, Kabupaten Lamongan. (*Tim)