Bantuan Sumur Bor di Mola, Ditempatkan di Halaman Rumah Anggota DPRD Alor -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Bantuan Sumur Bor di Mola, Ditempatkan di Halaman Rumah Anggota DPRD Alor

Friday, November 20, 2020

Gambar (Zonalinenews.com)


Indikatoralor.com - Yusuf Atakari (53) petani warga Mola, RT 11 RW 5 kelurahan Welai Timur Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor Propinsi NTT mengeluh dengan bantuan sumur Bor hasil pokir DPRD ditempatkan di halaman rumah anggota DPRD Kabupaten Alor, Marthen Luther Blegur dari partai Nasdem.


“Awalnya kami tidak tau bahwa ada bantuan sumur bor di Mola, kami mendapatkan informasi dari kontraktor Hendra bahwa dirinya sedang membangun sumur bor di kediaman bapak Mathen Blegur. Menurut Hendra sumur bor tersebut merupakan bantuan pokir bagi masyarakat,” kata yusuf Atakari kepada wartawan, Jumat 20 November 2020 Via telpon.


Menurutnya sebagaimana yang dikutip dari zonalinenews.com, pembangunan sumur bor tersebut seharusnya di dapil III Pantar, Dapilnya Pak Matrhen tapi kok bisa bangun disini dan batuan tersebut malah ditempatkan di halaman rumah pribadinya bahkan dipagar keliling sehingga masayarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih dari sumur bor bantuan tersebut.


“50 KK di kampung Mola sangat kekurangan air bersih dan untuk mengambil air masyarakat Mola memesan tengki bahkan ada yang berjalan kaki sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan air bersih,”ungkap Yusuf Atakari.


Dikatakan Yusuf, pekerjaan sumur bor di kediaman Marthen Blegur oleh kontraktor Hendra dilaksanakan kalau tidak salah ingat, bulan Mei atau Juni dengan waktu pelaksanaan 3 hari kerja sudah mendapatkan air.


“Setelah mendapatkan air rumah yang bersangkutan dipagar keliling,” beber Yusuf.


Persoalan ini kata Yusuf Atakari, juga telah disampaikan warga kepada Lurah Welai Timur yang saat itu dijabat, Alamudin Tolang namun karena yang bersangkutan telah pensiun sejauh ini perkembangan laporan masyarakat terkait sumur bor tersebut belum ada kejelasan tindak lanjut.


“Persoalan ini juga telah dilaporkan kepada Lurah yang baru, oleh Lurah baru dirinya tidak tau persoalan ini karena persoalan ini sebelumnya ditangani oleh Lurah yang lama,” ujar Yusuf.


Sementara itu anggota DPRD Kabupaten Alor Marthen Luther Blegur dikonfirmasi via telpon , Jumat 20 November 2020 siang menjelaskan awalnya masyarakat setempat datang kepada dirinya meminta bantuan agar bisa mendapatkan sumur bor karena sebelumnya pernah mendapatkan bantuan sumur bor P2KP tapi distribusinya air tidak jalan.


“Saya membantu dengan pokir 50 juta bisa dibangun sumur bor,” tutur Mathen Via telpon.


Kemudian kata Marthen, dilakukan pertemuan bersama berdasarkan kesepakatan dengan ketua RT maka akhirnya memutuskan bantuan sumur bor ditempatkan di halaman rumah dirinya, itupun atas kesepatakan bersama warga dan RT setempat.


“Warga minta agar bantuan sumur bor tersebut jangan ditaruh di rumah warga, karena siapa yang mau menangung bahan bakar dan meteran pulsa sehingga berdasarkan kesempakatan maka halaman rumah saya ditunjuk sebagai tempat sumur bor itu,”ungkap Marthen.


Soal pagar rumah munurut Marthen, pada tahun 2020 dirinya memasang pagar kelilig karena kondisi rumah kosong tidak ada penjaga.


“Rumah saya pagar, pintu pagar tidak saya gembok bagi warga yang membutuhkan air silahkan datang ambil karena pintu pagar saya tidak gembok,” jelas Marthen.


Ia menjelaskan wilayah yang dibangun sumur bor itu bukan dapilnya namum kerena rumahnya berada di wilayah tersebut maka dibangunlah untuk warga.


“Warga pakai suka-suka tidak ada masalah,”tuturnya.


Dikatakan Marthen, karena anggaran sumur bor 50 juta dan sangat terbatas, sehingga pengembangan jaringan sumur bor tersebut terbatas, untuk itu dirinya lagi memikirkan anggaran untuk memasang akses perluasan jaringan sehingga bisa dinikmati warga.


“Karena tidak ada anggaran untuk perluasan jaringan bagi masyarakat yang membutuhkan air silahkan pasang selang tadah airnya. Bukan saya yang atur-atur itu air , selama ini siapa yang datang ambil air silahkan ambil air. Kan rumah itu kosong tidak saya tempati tapi pulsa listrik untuk sumur bor saya isi,”tuturnya.


Ia menyarankan agar wartawan mengkonfirmasi RT setempat terkait pembangunan Sumur bor tersebut.


“Nanti sore pergi ambil nomor bapa RT, nanti saya kirim ke bapa (wartawan) bisa dikonfirmasi/ komunikasi dengan bapa RT ,” pinta Marthen.


Ia menambahkan, karena tanah itu merupakan aset miliknya maka dirinya mempunyai hak untuk memagar bukan sumur yang dipagar.


“Terserah dia mau omang apa, bagaimana rumah saya kasih tinggal kosong tanpa pagar, kecuali ada yang jaga,” ungkap Marthen.


Sementara itu Ketua RT 11 kelurahan Welai Timur,Imanuel Atapelang (38) dikonfirmasi via telpon pukul 17. 49 wita menjelaskan selama kegiatan berjalan dirinya tidak mengetahui bahwa sumur yang dibangun tersebut merupakan bantuan pemerintah kepada warga.


“Saya tidak tau kalau sumur bor yang dibangun tersebut merupakan bantaun Pokir. saya pikir sumur bor itu milik pribadi anggota dewan yang bersangkutan karena dirinya sudah membangun rumah disini,” tutur Imanuel Atapelang.


Dikatakan Imanuel Atapelang, kalau sumur bor tersebut bantuan pokir tentu anggota dewan yang bersangkutan sudah menghubungi dirinya.


ketika ditanya wartawan apakah sumur bor bantuan tersebut dibangun di halaman rumah Anggota DPRD Marthen Blegur berdasarkan kesepatakan warga dan RT setempat.


“Yang disampaikan Anggota DPRD Mathen Blegur bahwa summur bor bantuan itu dibangun di halaman rumahnya atas kesepakatan warga tidak benar adanya, itu bohong, tidak pernah ada kesepakatan itu bahkan pertemuan untuk membahas itu juga tidak ada ,” beber Imanuel Atapelan.


Ditambahkan semenjak dibangun sumur bor bantuan itu, warga setempat belum pernah menikmati.


“Mana mau menikmati air dari sumur bor bantuan tersebut, pagar rumahnya saja dibangun tinggi dua meter.,” ungkapnya.(*zonalinenews.com)