Pengusaha Kayu Di Alor Ikut Masuk dalam Kasus Human Trafficking -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Pengusaha Kayu Di Alor Ikut Masuk dalam Kasus Human Trafficking

Wednesday, August 5, 2020

Ilustrasi Kekerasan Seksual (Viva)

Indikatoralor.com
Kasus Human Trafficking dan kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur yang menyeret kepala BMKG Kabupaten Alor ternyata turut melibatkan BT seorang pengusaha yang berprofesi sebagai penampung kayu. Rabu, (05/08/2020)

Informasi yang diterima langsung oleh tim media Indikatoralor.com dalam wawancara singkat bersama salahsatu dari Tiga orang tua korban Human Trafficking (Perdangan Manusia)  dan kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur beberapa waktu lalu.

Dalam wawancara langsung bersama orangtua korban yang tidak ingin disebutkan namanya ini menerangkan bahwa pengusaha kayu BT yang merupakan rekan bisnisnya ini sudah cukup lama menjalin kerjasama dengan orang tua korban.

"Jadi dalam kasus ini, salahsatu rekan bisnis yang selama ini sering ambil kayu di saya ikut terlibat. Awalnya ketika saya jemput anak saya di rumah Kepala BMKG saja saya sempat dengar kepala BMKG sebut ini oknum punya nama," ungkapnya.

Namun, orang tua korban ini tidak sempat menyangka kalau BT yang dimaksud adalah rekan bisnis yang sudah cukup lama menjalin kerjasama perkayuan dengan dia. "Saya tidak menyangka kalau BT yang dimaksud oleh kepala BMKG adalah rekan bisnis saya," terangnya.

Awal mula diketahui keterlibatan BT setelah salah satu korban yang merupakan anak dari rekan BT yang kabur setelah dijemput paksa dari rumah kepala BMKG.

"Jadi awalnya kami belum mengetahui kalau BT juga terlibat dalam perkara ini. Sehari setelah anak perempuan saya tiba dirumah BT sempat datang kerumah dengan alasan ingin membayar kayu yang sebelumnya beliau sempat ambil dari saya,"ujar orang tua korban ini.

Kehadiran BT dirumah orang tua korban inipun awalnya tidak membawa curiga hingga ketika BT berpamitan pulang tidak ada satu apapun yang janggal. Beliau pulang bersamaan dengan orang tua korban yang juga saat itu berniat mengantarkan kayu pesanan ke Barat Laut Alor.

"Kami keluar dari rumah saya bersamaan, kebetulan saya juga waktu itu mau antar pesanan saudara di Ampera. Setelah kami keluar dari rumah jelang beberapa menit anak saya yang malamnya baru tiba di rumah malah ikut menghilang dan kabarnya BT sempat putar kembali ke Rumah,"

"Malamnya anak saya sampai dirumah, besoknya kabur lagi dan setelah kami cari 1 x 24 Jam baru ditemukan di Palibo sementara itu BT yang berdasarkan isi chat via facebook messanger dengan korban lain yang merupakan saudara sepupu yang dibawa BT berniat mengirim keluar putri saya berhasil saya tangkap di kawasan dekat Gudang Remaja (kawasan dekat padang tekukur)," kata ayah korban ini dengan nada kesal.

Pelaku yang berinisial BT ini sebelumnya sudah sempat dilaporkan ke Polres Alor namun dalam proses gelar perkara nama BT tidak pernah dibahas.

Berdasarkan kasus inI, BT turut serta dalam tindakan Eksploitasi yang berdasarkan Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU 21/2007)

Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil.

Selain itu, BT juga terindikasi melakukan tindakan perdagangan orang sebagaimana Pasal 1 angka 1 UU 21/2007 perihal definisi perdagangan orang sebagai berikut:

Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.

Serta terindikasi melakukan tindakan yang melanggar Undang - Undang kekerasan seksual terhadap anak dibawah Umur Nomor 35 Tahun 2014 Perubahan Atas Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. (*Red)