Infrastruktur, Nafas Perubahan Ekonomi
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Infrastruktur, Nafas Perubahan Ekonomi

Thursday, July 16, 2020

Foto: Penulis
Indonesia tengah memasuki babak baru dalam persaingan ekonomi Dunia. Menjadi negara yang sekian lama terposisi sebagai objek eksploitasi dan objek "tube desegtif" oleh bangsa - bangsa Barat membuat bangsa ini laksana seeokor singa terluka yang meronta - ronta dari belenggu ketergantungan ekonomi Barat dan Eropa.

Hal ini menandakan bahwa ada secercah harapan untuk bangsa ini berdiri kokoh penuh kedaulatan dalam segala lini. Peradaban ekonomi Eropa dan Barat kini nampaknya mulai terbaca oleh Indonesia yang sejak dahulu tercanangkan atas dirinya sebagai "Negara Berkembang" dan bukan negara maju serta gelar made in western ini telah menemui jalan buntu sebab hanya berorientasi pada terciptanya suatu dunia yang tak mungkin dihuni, yang sudah eksplosif dan penuh dengan perangkap.

Berbicara tentang kejahatan Barat dan Eropa dalam missi eksploitasi berbagai sektor ini membuat salah satu Filsuf terkemuka Dunia yakni Roger Graudy dalam karyanya  Appel aux vivants (Ajakan kepada orang - orang yang yang masih hidup) mengatakan bahwa; Kata - kata telah merefleksikan disintegrasi perekonomian ini: perdamaian dinamakan keseimbangan teror, pengkhianatan kepada bangsa dinamakan: keseimbangan nasional, kekerasan kelembagaan dinamakan: orde, persaingan dalam hutan dinamakan: liberalisme, dan keseluruhan kemunduran - kemunduran ini dinamakan 'progress' (Kemajuan).

Maka betapa bersyukurnya melihat Indonesia yang kini secara perlahan mulai melepskan diri dari paradoks progress  serta berbagai bentuk kamuflase barat dan eropa ini.

Harapan Pembangunan Indonesia

Sebagai negara berkembang, Indonesia kini benar - benar giat dalam melakukan penataan dan sibuk berbenah diri menyongsong persaingan ekonomi Dunia. Dengan potensi ekonomi di sektor pariwisata serta potensi kekayaan alamnya, meski tertatih mengejar ketinggalan dalam persaingan Dunia.

Pembangunan infrastruktur merupakan komponen terpenting dalam upaya maksimalisasi pembangunan nasional. Keberadaan infrastruktur yang memadai akan berkontribusi pada kelancaran produksi maupun distribusi barang dan jasa yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara dan meningkatkan pemerataan ekonomi di wilayah - wilayah.

Infrastuktur tentunya juga dapat mendorong minat investor asing maupun domestik untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hasil dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi, tidak terdapatnya pengaruh signifikan antara pembangunan infrastruktur terhadap pemerataan ekonomi, dan terdapat pengaruh signifikan antara pertumbuhan ekonomi terhadap pemerataan ekonomi.

Emha Ainun Najib (Cak Nun) salah satu negarawan bangsa dan budayawan pernah mengatakan bahwa wujud tujuan pembangunan dan segala hasil daripadanya perlu dipertanyakan karena ilmu menjawab ilmu pengetahuan dengan pertanyaan, kebudayaan menjawab pertanyaan dengan perubahan, ekonomi menjawab pertanyaan dengan pemerataan serta keadilan, pembangunan menjawab pertanyaan dengan peruntuhan dan politik menjawab pertanyaan dengan senjata.

Mempertanyakan Pemerataan Pembangunan di Alor

Hal yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah bagaimana caranya agar perutnya dapat terisi disetiap harinya. Tingkat kemiskinan yang saat ini masih sulit teratasi di bagian Barat Laut Kabupaten Alor semakin sulit dipecahkan. Sebab musababnya adalah apakah karena faktor kemalasan masyarakat ataukah karena masyarakat hanyalah korban dari politik pembangunan ekonomi, kemiskinan secara struktural yang belum mampu dituntaskan oleh negara?

Sekilas mengamati, kemiskinan struktural ini tidak hanya disebabkan oleh gejolak perpolitikan dalam negeri, namun juga merupakan dampak dari kurang lihainya negara dalam memanfaatkan peluang dalam upaya mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Apakah hal ini disebabkan oleh kejanggalan yang ada di desa dalam hal ini ekskstensi kegunaan BumDes yang tak sesuai dengan minat dan potensi desa? entahlah !

Ilmlu Pengetahuan Menjawab

Dalam sebuah seminar dengan Tema Besar Membangunan Ekonomi Indonesia Timur bersama Dr. Rizal Ramli di Universitas Tribuana Tungga Dewi Malang, sempat mantan menteri ekonomi ini menjabarkan sebuah senjata sakti serta referensi penting yang dapat digunakan oleh pemerintah Kabupaten Alor dalam upaya peningkatan kesejahteraan Masyarakat dan upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Alor.

Menurut Rizal Ramli, sektor utama yang perlu diperioritaskan dalam pembanguan demi terpenuhinya kedaulatan ekonomi masyarakat adalah pemenuhan Infrastruktur Jalan Raya sebagai nafas bagi mobilitas perekonomian. Sebesar apapun potensi ekonomi suatu wilayah namun pemenuhan pembangunan fasilitas infrastrukturnya maka pembangunan di wilayah tersebut tidak akan meningkat dengan pesat.

Jika berbicara tentang kondisi Infrastruktur jalan di Kabupaten Alor berdasarkan data Badan Pusat Statika tahun 2018 tercatat memiki panjang jalan keseluruhan berjumlah 1.142,32 km dengan kondisi jalan rusak sepanjang 342,20km dan jalan yang masuk pada kategori rusak parah sepanjang 155,23km artinya sekitar 30% jalan raya di Kabupaten Alor masih cukup jauh dari standar kelayakan Alor menjadi singa perekonomian di Nusa Tenggara Timur.

Ini adalah PR besar bagi Eksekor dan Legislator Alor dalam menjawab tantangan potensi dan realitas pembangunan. Akankah Alor segera bangkit?


Penulis: Damanhury Jab
Editor  : Redasi