Muhammadiyah: Kongsi Intelektual dan Kerja Kerja Kerja -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Muhammadiyah: Kongsi Intelektual dan Kerja Kerja Kerja

Wednesday, April 29, 2020


Oleh: KH. Nurbani Yusuf
(Pendiri Komunitas Padang Mahsyar)

Semakin hari saya semakin paham kenapa seorang ulama waskita yang tajam baca tanda-tanda jaman, Kyai Dahlan sang pendiri memimpikan Muhammadiyah menjadi ‘khoiru-ummah’ sebaik-baik kumpulan yang menjadi teladan, terdepan dalam kepeloporan. Nampaknya mendekati kenyataan.

Apapun yang diinginkan Muhammadiyah bisa menyediakan ini gerakkan paling komplet. Saya belum pernah jumpai. Carl Whiterington salah seorang peneliti Amerika Serikat menyebut Muhammadiyah sebagai ‘organisasi yang diberkati’. Tak hanya itu, Muhammadiyah selalu terdepan dan memenangi pertarungan dialektik. Padu-padan intelektualitas kelas dewa dengan kerja amal saleh yang mempesona.

Bagaimana tidak ? Mau bikin kongsi intelektual atau gerakan pemikiran sudah ada puluhan perguruan tinggi berkelas, ratusan peneliti dan cendekiawan bertebaran dalam berbagai disiplin ilmu. Mau bikin gerakan filantropi sudah ada puluhan Rumah Sakit berkelas, LAZISMU, MDMC dibawah Majelis Penolong Kesengsaraan Oemoem yang legendaris. Mau bicara tentang pendidikan sudah ada ribuan sekolah dari PAUD hingga perguruan tinggi. Mau bahas tentang emansipasi perempuan sudah ada A’isyiyah yang lincah.

Sikap puritan yang disandang sebagai ciri gerakan adalah sesuatu yang sangat spesial sebuah kekhususan yang membedakan dengan gerakan lain sejenis. Sikap puritan itu adalah: Hemat, suka memberi, pekerja keras, mementingkan orang lain, bersahadja, jujur, berlomba berbuat bajik, iklas tidak pamrih dan gotong-royong atau taawwun.

Inilah sikap dasar yang dimiliki warga Persyarikatan. Karena itu anda tak bakalan menjumpai ada orang bergamis bersurban menjuntai yang dikermuni orang banyak. Bahkan saya tak pernah tahu siapa pendiri Univ Muhammadiyah Solo, Jogja, Malang dan puluhan lainnya dengan aset puluhan triliun itu. Itulah kesahajaan sebagai wujud ‘muhammadiyah-ehics’ di Persyarikatan. Saya bilang Max Webber harus mengkonstruksi ulang tesisnya.

Muhammadiyah tak pernah jadi beban negara apalagi beban politik atau sosial lainnya Robert N Bellah memberi catatan menarik meski teramat singkat  Muhammadiyah ditakdirkan sebagai gerakan dengan arus ‘transformatif-solutif’ yang kental. Kerap solusi yang ditawarkan itu ditentang atau dibantah kemudian dibenarkan ramai-ramai.

Ciri gerakan ini adalah selalu berhasil membumikan gagasan dan ide besar menjadi sebuah amal saleh. Padanan dua hal besar yang saling berkelindan. Kongsi intelektual dan kerja menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang mengubah.

Maka tak pantas memandang Muhammadiyah  dalam satu sudut sempit antum tak bakalan merasakan lezatnya berMuhammadiyah jika hanya ditarik dalam definisi rigid. Dari sisi politik, apalagi ditarik yang spesifik, politik kekuasaan misalnya. Muhammadiyah jauh melampaui itu semua dalam berbagai varian yang konstruktif. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah semua berperan, bagai orkestra membentuk harmoni yang kokoh dan serasi.

Kongsi intelektual tentang epistemologi skripturalis dan legalis formalis dalam beragama sangat dihindari karena merendahkan dan melecehkan ide-ide pembaharaun dan tajdid. Pada sisi lain menjunjung spiritualisme Islam secara inklusiv agar mengundang banyak maslahat bagi banyak umat Muhammadiyah memang beda banget.