Mengutuk Pertikaian Wakil Rakyat Alor -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Mengutuk Pertikaian Wakil Rakyat Alor

Tuesday, April 7, 2020

Penulis

Covid-19 kini laksana petaka bagi Dunia.  Menjadikan rumah ibadah kesepian tanpa pengunjung, membuat macet roda ekonomi dan mengunci ruang gerak manusia.

Kecemasan akan merembesnya penularan covid-19 di Indonesia hari ini menghantui pikiran dan jiwa warga negara kita. Korban yang telah berjatuhan akibat penyebaran wabah Covid kerap kali menjadi suguhan hangat media TV dengan menampilkan presentase kematian dengan jumlah yang tidak kecil.

Namun, dalam tulisan kali ini saya tidak ingin terlalu jauh mengajak pembaca sekalian berkelana. Mari kita tetap di Indonesia. Kita lihat reaksi konyol wakil rakyat kita yang tengah mempertontonkan kepintarannya ditengah polemik ini.

Hari ini, di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tengggara Timur, dialektika yang tidak edukatif tampak semakin menggila. Setelah pihak Bandara Mali Alor tidak mengindahkan instruski Bupati Alor untuk menutup akses transportasi udara lantaran menganggap bahwa otoritas tertinggi ada di tangan Kementerian Perhubungan.

Setelah itu, Bapak Donny Mooy dan Ibu Eni Anggrek yang kini menjalankan tugas  sebagai Wakil Rakyat yang Terhormat kembali debat dengan topik yang sangat tidak menawan. Bukan topik soal mahalnya harga Gula Pasir yang Tembus 20.000an per-Kilogram atau persoalan DPRD Alor yang secara kelembagaan belum sempat mengambil langkah kongkrit mengatasi ancaman wabah covid. Melainkan persoalan Hamid Haan ke Alor dan Fans mengamuk hingga Kapolres dan Ketua DPRD diapanggil Polda.

Sesama Wakil Rakyat (katanya) yang harusnya hari ini mesti melantai bersama untuk menjawab kegelisahan rakyat seantero Alor terkait ancaman Covid-19 ini malah sibuk hujat - hujatan dan saling menghina di media sosial.

Bayangkan saja, ketika harga kebutuhan pokok yang semakin meroket ditambah dengan banyaknya kantor pelayanan yang terpaksa harus diliburkan tentu menjadi salahsatu permasalahan yang mesti dicari jalan keluarnya. Kita saat ini sedang berjalan menuju ke pintu gelap yang menakutkan (Kelaparan Rakyat akibat tidak beroperasinya seluruh aktivitas produksi bahan kebutuah pokok).

Lalu masyarakat kian bimbang dengan harga komoditas yang setiap hari menurun seperti batu yang digulingkan dari atas bukit menuju lembah.

Lalu apa maunya. Apakah yang bisa diberikan DPRD Alor hari ini kepada masyarakat seantero Alor ini. Ataukah hanya sebatas ini kemampuannya? hanya bisa Hujat menghujat dengan topik yang menurut saya sangat tidak proporsional. Lalu apa gunanya Bimtek dan studi banding yang selama ini dilakukan? apakah hanya sebatas ceremonial belaka?

Perlu disadari, bahwa sebagai Anggota DPRD yang terhormat kalian adalah barometer kualitas daripada masyarakat kabupaten Alor yang dianggap terbaik dan layak menjaga dan melayani masyarakat dengan Wewenang, Tugas dan Fungsi kalian. Jangan sampai rakyat murka hingga Marwah daripada nama baik DPRD sang Legislator Yang Terhormat akhirnya ambruk akibat ego kalian yang kurang edukatif.

Kemabali berangkulan dan lahirkan kembali Perda - Perda yang Produktif untuk kemakmuran seluruh Rakyat Kabupaten Alor yang lebih baik. Mungkin agak pahit tapi ini demi kebaikan.

Penulis: Damanhury Jab
Editor   : Redaksi Indikator Alor