Internalized Misogyny, Hantu Baru Dalam Dunia Feminis -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Internalized Misogyny, Hantu Baru Dalam Dunia Feminis

Tuesday, March 24, 2020

Foto Penulis

Nampaknya sudah tidak asing lagi mendengar kata internalized misogyny bagi sebagian kaum sok feminis. Mereka yang meneriakkan dengan lantang tentang emansipasi, yang berada di garda terdepan ketika turun aksi membela keadilan dan kemanusiaan. Nyatanya beberapa dari mereka mengidap penyakit internalized misogyny.

Pernah denger istilah misogyny kan? Misogini tidak sama dengan feminisme, misoginis merupakan perilaku atau sikap kebencian kepada perempuan dan selalu merendahkan perempuan. Misoginis dapat mewujud ke dalam berbagai bentuk termasuk diskriminasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan. Pelaku misogini yang disebut misoginis bisa laki-laki ataupun perempuan.

Orang-orang dengan internalized misogyny umumnya merasa bahwa bias gender yang ada saat ini merupakan sesuatu yang benar. Oleh sebab itu, mereka rentan menjadi korban perilaku seksis, karena kerap kali tidak sadar sedang diopresi.

Lantas apa yang dimaksud dengan internalized misogyny ? mbak-mbak feminis tentunya faham. Untuk pembaca yang masih asing dengan istilah diatas perlu ketahui juga bahwa Internalized misogyny dapat didefiniskan sebagai perilaku maupun pemikiran perempuan yang turut melanggengkan nilai-nilai misoginis. Bentuknya beragam, mulai dari merendahkan perempuan lain hingga percaya pada bias gender yang selama ini diajarkan oleh lingkungan. Gampangnya gini, internalized-misogyny adalah justifikasi terhadap perempuan lain atau kebencian terhadap perempuan lain yang tidak sama dengan dirinya.

Gejala penyakit internalized misogyny diantaranya yaitu selalu menempatkan diri sendiri atau perempuan lain pada posisi superior atau inferior. Internalized misogyny terjadi ketika seorang perempuan merendahkan, mempermalukan, dan membenci dirinya sendiri atau sesama perempuan. Atau bisa jadi mereka kerap menganggap dirinya lebih baik dibandingkan perempuan lain, dan perempuan lain yang tidak sama dan sependapat dengan mereka pantas untuk dibenci dan dijauhi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, I often do this misogynistic things to myself, apalagi sekarang menginjak masa quarter life crisis yang membuatku semakin terkungkung dalam fase dilema, cemas dan ragu akan kemampuan diri untuk menghadapi masa depan. Sehingga sering merasa kurang percaya diri dan cenderung membenci, merendahkan dan meragukan diri sendiri akan kemampuan untuk mengatasi masalah financial resources, karier, cita-cita, bahkan sampai pada urusan mau menikah dengan siapa. Ini adalah salah satu contoh perilaku internalized misogyny terhadap diri sendiri.

Dalam kasus lain, yang menjadi keresahan saya adalah semakin banyaknya organisasi-organisasi perempuan yang mengatasnamakan diri sebagai seorang feminist pejuang keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan gender.

Faktanya, beberapa dari mereka kerap kali menyudutkan organisasi perempuan lainnya yang tidak sepemikiran dengan mereka. Pertanyaan sederhananya, apakah feminisme lahir untuk menyakiti orang lain, terlebih sesama kaum perempuan sendiri? Tentu saja tidak!. mengakui dirinya Iam a feminist cuma nonsense alias omong kosong atau bualan semata jika kelakuannya masih misoginis. Naudzubillah min dzalik. Jangan sampai organisasi pejuang keadilan dan hak-hak perempuan menjadi organisasi politis dan arogan yang haus akan pengakuan bahwa mereka lah yang paling benar dalam hal perjuangan perempuan.

Ini semacam taktik yang berusaha mengadu domba antar sesama perempuan agar mereka berseteru. Sama halnya dengan taktik devide et impera penjajah ketika berusaha mengambil kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Ketika sesama perempuan berseteru, laki-laki menyusun strategi untuk mendominasi dan mencari keuntungan. Ujung-ujungnya patriarki lagi yang bakal menang. Memang, kebanyakan perempuan di Indonesia hidup di lingkungan yang patriarkis dan misoginis sejak kecil. Perempuan dituntut untuk patuh, menjaga sikap, dan menjadi lemah lembut. Sementara itu, laki-laki dituntut untuk kuat, tidak cengeng, dan kebal terhadap emosi.

Nilai-nilai ini akhirnya diinternalisasi oleh perempuan sehingga timbul fenomena yang umum disebut internalized misogyny (misogini yang tidak disadari). Bagi saya perilaku misoginis sesama perempuan itu adalah hal yang wajar jika yang melakukannya adalah mereka para perempuan yang sejak lahir terbentuk oleh lingkungan yang patriarkis.

Meskipun ini adalah hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, akan tetapi masih bisa dimaklumi. yang menjadi keanehan adalah ketika perilaku internalized misogyny ini adalah seorang feminis, lantas dimanakah hakikat feminisme dan kesetaraan gender yang mereka koar-koarkan selama ini? Hanya omong kosong kah? Sungguh miris

Perempuan misoginis beberapa diantara mereka adalah mbak mbak feminist juga, ketika menyerang korbannya kerap menggunakan terma-terma yang berkaitan dengan penampilan dan pergaulan sehari-hari. Seperti beberapa contoh di bawah ini yang beberapa waktu lalu saya dengar dari mulut seorang feminis : jadi perempuan tuh yang kuat dong, jangan baperan, kamu tuh kebanyakan drama!,“aku single fighter, bagiku perempuan yang berpasangan itu lemah dan gabisa mandiri”
Aku tuh ngga kayak cewek lain, aku gak suka make up dan gak bisa masak.

Aku perempuan berkarir. Miris sekali ketika melihat seorang perempuan yang sudah berdaya dan sukses dengan karirnya, malah justru merendahkan perempuan lain yang ia anggap derajatnya masih di bawah dirinya. Setiap perempuan memiliki cara dan gayanya sendiri dalam berekspresi. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tugas kita sesama perempuan adalah saling mendukung, menguatkan, bukan menjatuhkan. Dukungan antar sesama perempuan itu merupakan cara yang paling sederhana untuk menguatkan teman-teman perempuan kita. When woman supports woman, incredible things will happen. Sebagai seorang perempuan sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menguatkan bukan saling memojokkan satu sama lain. Feminisme hadir dengan sebuah konsep yang ideal, yaitu masyarakat yang egalitarian dan bebas.

Menjadi perempuan bukan berarti otomatis menjadi seorang feminis. Tapi, nyatanya memang masih banyak perempuan belum kafah memahami feminisme. Karena feminisme adalah sebuah paham, maka salah satu cara yang bisa dilakukan feminis adalah mengedukasi untuk menyadarkan para perempuan (Consciousness Raising), bukan malah menjadi internalized misogynist bagi sesama perempuan. Hal ini justru berpotensi merusak arti gerakan feminisme yang sebenarnya dan menjauhkan dari masyarakat ideal berkeadilan gender yang feminis idam-idamkan.

Editor: Redaksi