"Ifu" dan Keyakinan Turun Temurun di Reok -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

"Ifu" dan Keyakinan Turun Temurun di Reok

Saturday, February 22, 2020

Penulis

 Oleh Izzam Bethan.

Indikatoralor.com - Reok merupakan salah atu Kecamatan yang berada di Kabupaten Manggaraip penyuplaii terbesar untuk wilayah Manggarai raya (Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat), bahkan ada beberapa jenis Ikan yang dikirim hingga ke Maumere dan nantinya akan dikirim ke Bali. Hasil informasi lapangan. Ikan Tuna misalnya yang telah diolah menjadi Loin Tuna.

Loin Tuna adalah penyebutan bagi ikan tuna yang diperlakukan khusus, baik dalam pengolahan maupun dalam perawatannya, dengan memisahkan kepala, tulang tengah, dan ekor ikannya. Yang diambil hanyalah dagingnya, itupun tekstur daging yang kehitam hitaman pada ikan tersebut dipisahkan, selanjutnya dibungkus rapi dengan kantong plastik khusus lalu dikirim.

Loin Tuna biasanya akan dibuat shasimi. Di Reo ada jenis Ikan yang khas. Kekhasan ikan ini karena tidak sembarang dijumpai oleh Nelayan di laut maupun pembeli di pasar seperti biasanya. Dalam setahun hanya pada musim tertentu Ikan ini diperoleh dari para Nelayan. Selain terbilang langka Kekhasannya ikan inipun cara pengolahanya.  Namanya cukup sederhana, “Ifu”. Itu adalah nama sejenis ikan yang kerap ditemukan di perairan sungai Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Flores.

Gambar (Ifu)

Sesederhana namanya, ikan tersebut berukuran kecil, sekitar 3 – 5 sentimeter, atau kira-kira seukuran ikan teri. Bentuk badannya langsing memanjang, dengan latar tubuh berwarna coklat muda abu-abu bergaris hitam memanjang dari kepala hingga ekor serta sekitar 8 garis hitam lebih tebal melintang dari punggung kearah perut. Belum dapat dipastikan apa nama jenis ikan tersebut, hanya saja kalau membandingkannya dengan buku panduan ikan di Indonesia Barat dan Sulawesi(Kottelat et.al1993), sepertinya termasuk jenis Sicyopterus micrurus, atau setidaknya termasuk marga Sicyopterus.

Uniknya penanda yang disampaikan jika terdengar letupan (kerungguai) di wilayah laut yang dapat didengar dan dirasakan oleh masyarakat pesisir, atau dengan turunya hujan rintik (patarete) yang dibarengi dengan munculnya terik matahari maka itu menjadi pertanda kehadiran jutaan ikan Ifu yang bergerombol membentuk gumpalan hitam di sekitar muara. Penanda ini yang menjadi keyakinan bahwasanya jika terjadi maka tidak lama lagi ifu tadi akan keluar.

Sedikit demi sedikit kumpulan ikan tersebut kemudian akan mulai berpencar, dimana sebagian diantaranya kemudian memasuki wilayah muara sungai dan melakukan perjalanan menuju hulu sungai.
Sebagian kecil dari mereka berhasil melanjutkan perjalanannya hingga ke mata air, dan kemudian berkumpul beberapa saat di kolam mata air.

Manakala hujan besar datang, ikan Ifu-pun akan ikut turun bersama limpahan air sungai, yang kerap berupa banjir, menuju kembali ke laut. Itulah saat dimana masyarakat lokal menganggap bahwa hujan terakhir telah turun, dan kemudian akan berganti menjadi musim kemarau.

Nelayan maupun konsumen dapat memperoleh dan menikmatinya sekitar bulan Maret-April. Jenis ikan inipun dapat diolah bermacam-macam, digoreng, yang adonannya telah dicampuri bumbu tepung,  direbus bahkan dijadikan pepes.

Namun yang khas pada ikan ini adalah dapat diubah menjadi olahan Mbohi. Mbohi adalah Ifu yang dimasukan kedalam toples kaca yang telah dicampuri dengan lumuran garam dan disimpan dalam waktu yang cukup lama sekitar 4-5 bulan agar bisa menjadi mbohi. Setelah menjadi mbohi waktu bertahannya bisa mencapai 1 tahun. Cara masaknyapun terbilang sederhana, cukup ditumis dicampuri bumbu namun aroma dan rasanya istimewa. Sebab inilah kami warga Kecamatan Reok tak akan pernah moveon dari bayangan Ifu/Mbohi.

Didaerah kalian?