Natal dan Momentum Kemanusiaan -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Natal dan Momentum Kemanusiaan

Tuesday, December 24, 2019


Indikatoralor.com - Tak selalu berkait dengan iman yang terus direbutkan kebenarannya Terrece kakek sepuh berusia tujuh puluhan tinggal sendirian di kota sebesar London ia bersama 2,4 juta lainnya hidup sendirian jauh dari ramai. Ini bukan soal siterklass (santha clauss) yang membawa ribuan hadiah untuk anak-anak, tapi soal orang tua yang diabaikan dan dianggap tiada.

Dalam wawancara khusus yang disiarkan BBC, Terrece telah selama 20 tahun lebih merayakan natal sendirian tak ada teman atau handai taulan bersamanya lagi di Inggris ada sekitar 2,4 juta manusia hidup sendirian dan 1,4 juta diantaranya kesepian.

Menurut WHO, kesepian itu berdampak buruk terhadap kesehatan, sama dengan menghisap 15 batang rokok sehari Terrece seperti yang lainnya tak pernah tahu apa itu kesepian sampai ia benar-benar merasainya. Pada natal yang benar-benar sepi. Tanpa pohon cemara berhias lilin warna-warni atau kado dan ucapan selamat natal sebagai tanda bahwa ia ada.

Filsuf besar Perancis Rene Descartes mendefinisikan kesepian sebagai hidup tanpa tanggungjawab sosial tapi bagaimana dengan orang-orang yang dibuang dan disendirikan oleh komunitasnya? Dijauhkan dan dianggap expaiad karena tidak berguna.

Natal tak semuanya berkait dengan iman semacam pengakuan bahwa Tuhan lebih dari satu lantas dicap kafer siapapun yang dengan berani mengucapkannya. Meski belum ada fatwa khusus tentang relevansi iman, antara yang mengucapkan natal dengan orang yang tidak mengucapkan natal tapi ikut merayakan liburan natal bersama keluarga.

Iman itu hidayah tak ada yang kuasa mengubah iman kecuali Yang Maha Benar. Siapa minta George Orwel lahir pada bapak dan ibu Katholik Amitabh Bachan aktor Bollywood paling ganteng itu lahir dari Ibu dan bapak yang beragama Hindhu atau Snouck Hougranje tetap saja Kresten meski telah hafal ribuan ayat al Quran dan hadits saat mukim di kota suci Mekkah. Tak sesiapapun bisa menentukan iman-nya. Sebab itu kita terus mendoa agar ditetapkan hidayah.

Sebab sebelum beragama semua kita adalah manusia maka menolong pelacur yang lapar agar terhindar dari celaka bukan berati memberinya energi agar ia punya kekuatan untuk melacur lagi jadi apa salahnya membantu Terrece kakek kesepian itu merayakan natalnya menyalakan lilin-nya dan memberinya kado. Mengunjungi dan membuatnya tersenyum pada malam natalnya sambil menyanyikan lagu kesukaannya : silent neighbour.

Di Uighur China. Rahingyae di Myanmar dan berbagai kekerasan atas nama agama di belahan bumi manapun, sebabnya satu: karena agama kehilangan kemanusiannya maka pesan Prof Haidar Nashir Ketua PP Muhammadiyah, menemukan relevansinya,  menjadikan natal sebagai moment merekatkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang sempat terserak karena perbedaan pilihan politik.

Di Rusia yang dingin Gereja ini tidak merayakan Natal tanggal 25 Desember. Umatnya diwajibkan berpantang daging selama 40 hari sebelum hari besar. Jemaat wanitanya menggunakan kerudung. “Kristen itu sudah minoritas dan kami ini ultra minoritas," ujar salah satu umat Gereja Ortodoks Rusia.

Tapi setidaknya kita pernah hidup rukun sebagai anak-anak dari bapak yang sama: Ibrahim meski dari ibu yang berbeda: Sarah dan Hajar bagi kalian selamat merayakan Natal semoga Suka Cita dan Damai Natal Bersama.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar