Wanita Dalam Pusaran Bermasyarakat -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Wanita Dalam Pusaran Bermasyarakat

Monday, October 28, 2019

Foto Penulis

Memperjelas Posisi Kaum Perempuan Dalam Kehidupan Bernegara

Oleh: Nurul Fauziah
Indikatoralor.com - Konflik  dan anggapan masih tertuai dalam stigma masyarakat bahwa perempuan adalah golongan yang kurang elok jika tampil sebagai public figure. Zaman kini terus berkembang dan sebagai manusia kita harus menghadapi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan.

Seringkali saya mendengar stigma yang menjadi akar persoalan terhambatnya berkembangnya perempuan ini. Saya sempat berpikir, sampai beginikah seorang perempuan dikungkung dalam belenggu faham latah?

Apakah benar bangsa ini ingin maju menjadi bangsa yang diperhitungkan dimata Dunia? Jika memang bangsa ini ingin maju, maka perempuan bangsa ini juga perlu di beri ruang untuk mengekspresikan keinginan, bakat, serta minat mereka.

Jangan terus di belenggu oleh aturan masa lalu. Padahal aturan itu efektif pada masa itu sedangkan perubahan  terus terjadi dari masa lalu yang belum mengetahui ke masa depan dan semuanya harus menyesuaikan diri.

Tuhan menyuruh semua hambanya untuk belajar dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan dalam arti kata manusia mencangkup laki-laki dan perempuaan. Tentu hal ini berarti perempuan juga di perintahkan untuk maju, belajar, dan  mengutarakan pendapat dan keinginan mereka.

Memang apa salah golongan kami (kaum perempuan) sehingga stigma masyarakat terus memojokkan eksistensi kami. Ketika kami bursuara di depan dan lantang mengeluarkan pendapat, mereka yang masih terjebak pemikiran lama yang membuat saya dan perempuan lainnya menjadi pesimis dan takut bila bersuara nanti kami akan di cap jelek dalam penilaian Masyarakat .

Lantas apa salah saya sehingga kalian kaum perempuan yang menggap kita wajib diam dan hanya mengikuti mengejudge saya mencoreng nama dan martabat kalian. Saya itu gak nyuri, gak korupsi gak ngebunuh apalagi memfitnah. Saya di sini hanya ingin bersuara apa yang ada dalam pikiran saya. Saya ingin mendapat hak yang sama dengan kaum lelaki yang bisa mengeluarkan suaranya ke public tentang pemikiran dari sudut pandang mereka. Disini saya mau juga membuat jalan bagi kaum perempuan untuk membuka suara kalian ke public agar mereka dapat mengerti dan memahami bagaimana sudut pandang kita kaum perempuan.

Kita ini hidup di Negara yang Adil dan toleran. Sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara kita Pancasila. Lantas kenapa stigma masyarakat terhadap perempuann menganggap bahwa perempuan itu kurang elok bila menjadi pablik figure? lah, orang saya sama sama mau membangun masyarakat dengan pemikiran, ilmu, dan pengalaman biar nanti bangsa kita bisa makmur biar sejahtera. Siapa yang tidak sakit hati ketika mendengar perkataan golongan kaum perempuan sendiri ada yang punya anggapan bahwa "untuk apa kuliah kalu nanti akhirnya juga kerjanya bakalan di dapur".

Kritikan saya, kalian saat menikah. Hak demikian merupakan pemikiran yang buat banyak wanita takut dan turun mentalnya, itu sama saja kita merendahkan posisi kita dalam bergerak emangnya masak itu bisa samapai seharian tidak kalian hanya menghabiskan waktu paling lama 3 jam untuk masak dan bebenah rumah yah itu sisanya 21 jam di potong waktu tidur yang Cuma 8 jam sisanya masih 13 jam. ini loh waktu yang kita bisa pakai buat mengekspresikan diri dan menjadi public figure untuk memajukan masyarakat. ini loh yang bisa buat kita maju sebagai perempua inilah waktu 13 jam dalam 1 hari yang di kalikan sisa hidup kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dengan mengamalkan ilmu dan pemikiran positif yang ingin kita wujudkan Nanti kalau hasilnya keliatan toh Masyarakat yang akan merasakan kenikmataanya bukan hanya golongan perempua saja.

Teori Plato Tentang Perempuan

Plato, ia menyatakan bahwa wanita sama dengan laki-laki dapat memimpin sebuah Negara / konstitusi. “Wanita dapat sama efektifnya dengan laki-laki dalam memimpin Negara karena mereka berdua sama menggunakan akal.”Asal, wanita dibebaskan dari kewajiban membesarkan anak dan mengurusi rumah tangga. Konsep Negara ideal menurut Plato, para pemimpin dan ksatria tidak boleh menjalani kehidupan rumah tangga. Karena pendidikan anak adalah sangat berharga, maka harus diserahkan kepengurusannya dari keluarga kepada Negara. Jika demikian, sama artinya Plato tidak mempercayai wanita dalam perpolitikan.

Kiranya tulisan ini dapat direspon dengan positif dan dapat membantu membuka kesadaran kita. Bahwa kaum kami (kaum perempuan) yang saat ini masih gelisah memikirkan nasib kaum perempuan yang terkungkung dalam kekangan paham patriarki. Sudah waktunya diberi kelonggaran dan keleluasan dalam menata karirnya sebagai public figure.

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Penulis: Nurul Fauziah
Status  : Mahasiswi FISIP Univ. Satyagama Jakarta (Kader PMII Komisariat Jakarta Barat)
Editor  ; Damanhury Jab