Tamparan Untuk Negara, TKI Jadi Pembicara di Forum PBB -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Tamparan Untuk Negara, TKI Jadi Pembicara di Forum PBB

Saturday, October 5, 2019

Foto : Eni Lestari (Doc.Tempo)

Indikatoralor.com - Pertengahan September 2016 lalu, Indonesia dibuat ‘menganga’ dengan munculnya seorang tenaga kerja Indonesia asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur di depan sidang Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-71, New York. Dia bicara di depan sidang itu.

Sempat direalese oleh media Tempo Nama TKI itu, Eni Lestari Andayani Adi. Eni bicara tentang Migran dan Pengungsi atau High Level Summit on Migrant’s and Refugees. Jadi, Eni tidak hanya bicara tentang nasib TKI yang bekerja di sektor informal di luar negeri. Eni juga bicara soal kasus diskriminasi tenaga kerja migrant dunia dan nasib pengungsi dunia.

Sejak 1999, Eni bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hong Kong. Uniknya, selain menjadi aktivis migrant internasional, Eni masih menjadi PRT. Di dunia aktivis, Eni saat ini menjadi Ketua International Migrants Alliance (IMA).

IMA adalah aliansi global pertama migran dan pengungsi yang mengorganisir organisasi massa migran dan pengungsi, serta lembaga-lembaga yang mendukung penuh pemberdayaan buruh migran dan pengungsi di tingkat internasional. IMA didirikan pada tahun 2008 atas kesepakatan beberapa kita dan gerakan massa yang mengorganisir atau melayani migran, pengungsi dan keluarganya.

Ternyata, di kancah Internasional, bicara di depan orang berdasi di PBB bukan pertama kali.

Dia pernah mendapatkan kesempatan bicara di PBB dalam forum negosiasi MDGs. Berbicara di High Level Meeting on the implementation of the post-2015 development agenda pada September 2015. Berbicara sebagai perwakilan CSO di Asia Pacific Regional Forum on Sustainable Development (APFSD).

Mendapatkan dukungan CSO terbesar untuk berbicara di pembukaan Development Summit 2015 tapi President of the General Assembly memilih Amnesty International. Selain itu Berbicara di Sesi Pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang Pengungsi dan Migran.

Ketika Eni datang dari Hong Kong untuk bertemu dengan organisasi buruh migrant di Indonesia. Dia juga sempat bertemu dengan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri untuk menyuarakan kebutuhan buruh migrant Indonesia.

Bagaimana, tentu prestasi seperti ini langsung di klaim sebagai prestasi bangsa kan? Padahal bangsa sendiri tidak sanggup memfasilitasi bakat warga negaranya. Setelah dibesarkan oleh Hong Kong, kita hanya pandai mengklaim. Mari sapu dada.

Reporter: Redaksi
Editor     : Redaksi