Mimpi Buruk Golkar Alor di Pileg 2019 (Suatu Catatan Reflektif) -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Mimpi Buruk Golkar Alor di Pileg 2019 (Suatu Catatan Reflektif)

Thursday, June 13, 2019

Foto Penulis (Dokpri)

Indikatoralor.com - Berdasarkan hasil pleno Pileg DPRD Kabupaten Alor, maka Partai Golkar yang sebelumnya memperoleh 5 kursih harus rela kehilangan 2 kursih di pileg 2019. Dengan begitu Kursi Ketua DPRD yang selama ini dipegang oleh Partai Golkar harus berpindah ke PDI Perjuangan yang meraih 4 kursih pada pileg kali ini. Bahkan posisi Golkar ada di posisi ke tiga karena posisi kedua dipegang oleh Partai Nasdem. Partai Golkar hanya puas di posisi Wakil Ketua kursih kedua.

Sebenarnya di tahun 2014 pun secara akumulasi suara Golkar kalah dari PDI P, beruntung Golkar Alor di 2014 lebih unggul secara perolehan kursih. Hal yang cukup mengejutkan adalah dari lima (5) kursih di tahun 2014, tiga di antara incumbent (Petahana) DPRD Alor dari Golkar harus tumbang di Pileg 2019.

Padahal petahana punya kekuatan yang boleh dibilang di atas rata-rata para penantang sehingga jika harus kehilangan kursih cukup disayangkan.
Apa yang salah sehingga Partai Golkar harus melorot di posisi 3 dengan kehilangan kursih di Daerah Pemilihan III (Pulau Pantar) dan kehilangan 1 kursih di Dapil II Alor. Jika mau mengevaluasi Golkar Alor, maka salah satu variabel penting yang patut dilihat adalah masalah kepemimpinannya. Untuk itulah ke depan, saat momentum pergantian kepemimpinan harus dievaluasi betul dimana letak kelemahan partai Golkar Alor sehingga bisa kehilangan kursih pada pileg 2019. Tentu ini berkaitan dengan figur-figur yang akan berkompetisi memperebutkan kursih kepemimpinan Partai berlambang beringin tersebut.
 
Beberapa catatan yang ingin disampaikan pada tulisan ini di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, Figur yang didorong harus memiliki karisma tersendiri dan memiliki sepak terjang bagi pelayanan masyarakat Alor. Hal ini penting karena dalam rangka daya jangkauan partai Golkar harus meluas dan mendalam melayani kepentingan banyak masyarakat yang membutuhkan. Dengan begitu konstituen partai Golkar di semua Dapil dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi. Jika yang dibicarakan adalah figur maka selain kapasitas, juga harus dilihat 2 jenis karakter yakni karakter akhlak moralitas dan karakter kinerja. Figur yang didorong terkenal bersih, berani dan memiliki integritas yang baik, sementara karakter kinerja adalah memiliki semangat melayani yang tinggi yang dibuktikan dengan seberapa besar manfaat yang telah diberikan kepada masyarakat banyak. Selain itu, pimpinan Golkar juga harus memiliki jaringan (networking) yang kuat kemana-mana bahkan sampai ke level nasional sehingga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan kejayaan Golkar Alor terutama bagi pembangunan daerah Nusa Kenari tercinta ini.

Jika kursih Golkar Alor di DPRD Alor kian melorot maka ke depan posisi Golkar akan semakin sulit dalam mengusung kader-kadernya di Pemilukada masa mendatang.

Kedua, dalam penyusunan kepengurusan Partai Golkar mulai level kabupaten, kecamatan hingga ke desa-desa perlu juga memperhatikan aspek pertama tadi namun juga harus memperhatikan keterwakilan wilayah sehingga mampu menyedot kantung-kantung suara untuk Golkar Alor secara signifikan. Jika pendekatan hanya karena faktor ego pribadi, kolega dekat, dan faktor sesama suku atau agama maka tentu akan menjadi bumerang tersendiri bagi kebesaran Partai Golkar Alor.

Mengapa demikian? Karena kerja politik haruslah dilalui secara bersama/kolektif demi mendapat sukses bersama. Selain dalam fungsionaris partai, organisasi sayap partai juga harus diisi dengan kader-kader dengan berbagai latar belakang dalam upaya mengakomodir berbagai kepentingan yang tujuan akhirnya adalah meraup suara Golkar sebanyak mungkin.

Ketiga, Caleg-caleg Partai Golkar dominan masih mempertahankan golongan tua, sehingga sedini mungkin bagi pimpinan Partai ke depan harus mulai menyiapkan kader-kader muda untuk bersaing dalam momentum politik ke depan. Beberapa partai baru secara konkrit mulai menyodorkan orang muda menjadi politisi, hal ini terbukti telah mampu mendapatkan kepercayaan dari rakyat dan siap mengemban amanah sebagai wakil rakyat.  Hasil Riset DCS Formappi, 14/9/2018 menunjukkan bahwa caleg Milenials di Pemilu 2019 terklasifikasi Komposisi Usia milenial (21-35 tahun); 21% (930 caleg),  Usia produktif (36-59 tahun); 68%, (3.013 caleg) dan Usia non produktif (60 tahun-); 11% (499 caleg). Dari data itu diketahui Parpol pengusung caleg milenial PSI; 240 caleg, PPP; 142 caleg dan Gerindra; 98 caleg. Sementara Parpol pengusung usia produktif yakni PKS; 392 caleg, PAN; 383 caleg dan Golkar; 367 caleg. Itu artinya partai Golkar juga harus segera bergegas untuk mengambil peluang merebut suara para milenial yang jumlahnya cukup banyak yakni 80 juta dari 185.732.093 juta pemilih (35-40 %) adalah pemilih milenial dengan rentang umur 17-35 tahun. (LIPI, 11/12/2018). Sebagai contoh pendatang baru seperti Perindo mampu memperoleh 2 kursih serta berkarya dan PSI yang juga memperoleh kursih di DPRD Alor. Mau tak mau kemungkinan salah satu faktornya adalah terkait gagasan kaum muda yang bertarung dalam dinamika politik selain itu gagasan pelayanan kepentingan kaum muda di Alor.

Keempat, Partai Golkar Alor harus masif memanfaatkan teknologi informasi seperti media sosial untuk mengkampanyekan caleg-calegnya ke masyarakat, hal ini karena saat ini infrastruktur provider telkomsel telah melayani sampai ke pelosok-pelosok sehingga masyarakat mulai melek terhadap dunia media sosial. Tentu ke depan akan semakin masif lagi karena usia milenial yang paling banyak memanfaat media sosial jumlahnya akan terus meningkat drai tahun ke tahun. 
Kelima, Benahi perkaderan secara terstruktur dan sistematis sehingga kader-kader yang dipersiapkan haruslah matang, dewasa, dan memiliki ketahanan terhadap tantangan politik di masyarakat. Segala sesuatu yang telah digariskan oleh AD/ART partai harus dipatuhi dan diterapkan secara konsisten tanpa pandang bulu. Volume kegiatan pengkaderan harus ditingkatkan dalam berbagai jenjang dan jenis pengkaderan sehingga mereka merasa memiliki dan mencintai partai serta siap memenangkan partai saat momentum politik nantinya.

Beberapa catatan di atas memberikan gambaran kepada publik Alor, apalagi kepada para simpatisan partai Golkar di Alor tentang prestasi politik Partai Golkar Alor yang kian menurun dari periode ke periode setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Jika semboyan “Suara Golkar adalah Suara Rakyat” terus bergemah, maka tulisan ini juga merupakan bagian dari suara rakyat yang memiliki harapan bahwa partai senior sekelas Golkar yang telah memberikan sumbangsihnya terhadap bangsa termasuk kepada daerah Alor dalam kurun waktu yang lama bahkan bisa dikatakan Golkar terus teruji oleh zaman harus terus lihai dalam memenangkan pertarungan politik demi pengabdian kepada bangsa dan negara.

Pikiran reflektif kritis ini hadir untuk membangunkan semangat berpolitik yang dinamis namun tetap santun dan berorientasi pada pelayanan kepada rakyat banyak. Untuk itulah maka sebaiknya Golkar Alor segera berbenah jika tidak mau dikalahkan oleh para partai pendatang baru. Semoga.

Penulis:  Rahmad Nasir
Status   :  Dosen STKIP Muhammadiyah Kalabahi
Editor   : Redaksi Indikatoralor.com