Tantangan IMM di ERA 4.0 -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Tantangan IMM di ERA 4.0

Thursday, May 2, 2019

Foto Penulis. (Editor. Indikatoralor.com)

Indikatoralor.com - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan bagian dari Perserikatan Muhammadiyah yang bertujuan untuk melahirkan akademisi Islam yang berakhlakul karimah demi mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan wadah penghimpun dan pengikat serta penggerak dakwah Muhammadiyah dibidang Mahasiswa maka secara langsung Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah sedang memikul amanah Persyarikatan, Ummat, bangsa dan negara, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentunya Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah harus lebih pro-aktif dalam mempersiapkan kadernya untuk lebih concern dan memiliki involvement yang lebih untuk mengahdapi tantangan zaman yang semakin tidak berpihak pada kodrat manusia.

Pada tanggal 14 maret 2019, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memasuki umur yang ke 55 tahun, yang bertepatan dengan spirit bangsa Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi revolusi industri 4.0. tepat jika momentum milad kali ini mengambil tema besar “karya nyata untuk bangsa”. Maka secara sadar Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah telah memproklamirkan diri menjadi garda terdepan dalam mensuplai contoh, semangat,  dan dorongan kepada generasi muda untuk berinovasi untuk menyukseskan revolusi industeri 4.0 di Indonesia.

Dan terbukti hari ini, tepat pada malam puncak perayaan Milad di DPP IMM telah meluncurkan beberapa karya, contoh saja launching Bank Sampah dan Kapal Selam tanpa awak. sudah seyogyanya tema besar ini  menjadi pemantik semangat untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk  bagaimana melahirkan kader-kader kompeten yang siap untuk berkarya untuk bangsa, baik itu kontribusi secara fisik maupun gagasan.

Lalu apa yang harus dipersiapakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk menghadapi revolusi industri 4.0 ini.? 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sejauh ini semakin tidak terkontrol dan penuh hegemoni posisi, terbukti dengan semakin maraknya pekerjaan manusia yang disabotase oleh mesin maupun teknologi canggih lainnya. Maka tidak menuntup kemungkinan suatu saat manusia akan kehilangan nilai sosialnya, ruh gotong royong yang seharusnya menjadi icon peradaban bangsa indonesia kini perlahan-lahan mati akibat ketergantungan manusia pada teknologi yang berimbas pada perliaku apatis.

Dan hal itu bisa saja merongrong sistem kolektifitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah  dan bisa mengakibatkan lumpuhnya pergerakan hingga mematikan nilai fastabiqul khairat. Maka, sebenarnya tantangan Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah di Revolusi Industeri 4.0 adalah tri kompetensi Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah itu sendiri, mengingat rumusan-rumusan yang ada di dalam tri kompetensi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sudah menjadi kebutuhan absolut  peradaban umat manusia dari masa ke masa, maka Tri kompetensi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hari ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadapi revolusi industeri 4.0 ini.

Tantanngnya adalah, bagaimana Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah mengembangkan potensi-potensi kadernya untuk bersaing dalam bidang Industeri teknologi dengan berbekal pada Intelektualitas, Religiusitas dan Humanitasnya. Tentunya kita tahu bahwa akan ada persaingan besar-besaran secara global maupun regional, maka kapasitas dan kapabilitas setiap individu akan diukur dari segi intelektualitasnya.

Karena berbicara tentang teknologi maka tidak terlepas dari kapasitas otak manusia. Maka setiap level kepemimpinan di Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah harus terus melakukan upaya-upaya pembinaan dan pengembangan  keilmuan yang terus  diup-date  secara continue, agar mampu merangsang pikiran para kadernya untuk berinovasi, baik itu dalam bentuk karya maupun dalam bentuk ide dan gagasan solutif yang tentunya menjadi referensi dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan yang bisa hadir kapan saja dan dimana saja. Untuk diketahui Indonesia juga diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2040, yaitu penduduk dengan usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif. Jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 64% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 297 juta jiwa.

Oleh sebab itu, banyaknya penduduk dengan usia produktif harus diikuti oleh peningkatan kualitas, baik dari sisi pendidikan, keterampilan, dan kemampuan bersaing di pasar tenaga kerja.


Hal ini juga berlaku untuk religiusitas, mengingat perkembangan industeri teknologi yang semakin pesat bisa mengakibatkan terjadinya kerusakan dimuka bumi, seperti Eksplotasi sumber daya alam yang berlebihan, inovasi dibidang persenjataan yang kapan saja bisa menjadi alat pemusnah masal, yang secara internal Ummat Islam kita sadar eksistensi manusia sebagai khalifa yang bermandat untuk menjaga dan mencegah segala bentuk kriminalisasi di muka bumi.

Kemudian secara Humanitas, perkembangan teknologi membuat manusia cenderung apatis terhadap kehidupan sosial, tingkat atensi masyarakat lebih tinggi di sosoial media dibandingkan di kehidupan sosial secara nyata. Kemudian potensi lahirnya konflik cenderung berasal dari dunia maya, seperti hate speach dan lain sebagainya.

Maka dari itu, Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah harus merespon perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif. Respon tersebut dengan melibatkan seluruh rumusan yang ada pada tri kompetensi Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah, sehingga tantangan revolusi industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.  Dengan catatan pembinaan kader dengan berbekal pada trikompetensi Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah, terutama secara intelektual para kadernya, karena ketika berbicara tentang teknologi maka kita berbicara tentang hasil pikiran dari manusia.

Pembinaan secara intelektual harus lebih masif sehingga kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadaiyah tidak tegilas oleh roda beban dan tekanan teknologi yang mengakibatkan lumpuhnya inovasi diri dan bergantung pada tekhnologi dan tentunya melahirkan kader-kader yang berfikir dinamis, bukan berfikir statis yang hanya akan menghasilkan kader konsumtif yang tidak produktif. Kendati demkian secara religiusitas dan humanitasnya tidak boleh dikesampingkan karena ketigannya tidak bisa dipisahkan, mengingat agama sebagai filter dari segala perbuatan yang berorentasi padaSang Pencipta serta tindakan nyata dari hasil pikiran adalah untuk kepentingan bersama.

Penulis : Herliansyah Safrudin
Editor    : DJ