Nasionaliasem "Paradoks Keserakahan Jabatan di Negeri Begundal" -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Nasionaliasem "Paradoks Keserakahan Jabatan di Negeri Begundal"

Saturday, May 18, 2019

Foto: Penulis

Indikatoralor.com Mengais cerita kejayaan bangsa di masa yang telah berlalu. Sang Merah Putih masih berkibar dengan tegar diatas hembusan angin penuh kepalsuan. Darah  pejuang kemerdekaan telah mengering bersama nama besarnya. Jasa pejuang telah terkubur dibawah megahnya gedung - gedung yang berisikan para pegulat lidah.

Indonesia setahun terakhir seperti telur diujung tanduk. Kerisauan terus menghantui benak rakyatnya yang murung karna kebingungan mencari rezeki pengganjal perut. Sementara janji terus ditumpuk layaknya tumpukan batu bara di bawah hutan sejuk Pulau Kalimantan. Atau seluas hamparan laut Nusantara yang dasarnya berisikan bangkai kapal - kapal hasil jarahan hingga terumbu karang dan ikan - ikanpum ikut mengutuk kebejatan penghuni daratan negeri ini.

Kontestasi angka tejadi Nol (0) dicemarkan oleh satu (01) dan dua (02). Taukah engkau, di negeri ini nyawa bukanlah hal yang dianggap begitu berharga. 600 (Enam Ratus) rakyat tidak berdosa akhirnya harus mengecup tajamnya malaikat pencabut nyawa karena di iming - imingi oleh paradoks Nasionaliasem.

Iya, Nasionaliasem menjadikan manusia lupa rasa berterimaksih, Krisis jiwa kemanusiaan, bahkan haus akan kekuasaan. Lahirlah barisan - barisan yang berisikan golongan - golongan pemuda yang katanya menyuarakan keberpihakan terhadap kaum miskin kota. Namun bungkam dibawah jebakan pendahulu yang terlanjur berselingkuh dengan penguasa.

Usut demi usut ternyata jabatan dan kenyamanan menjadi bagian dari lingkaran penguasa membuat banyak tokoh agama yang pandai menghujat dengan menunggangi firman Tuhan.


Mengutuk 01 dan 02

Ketika angka Nol (0) dicemari oleh para pemburu tahta. Isyu di gulirkan layaknya bola liar yang hanya menyisakan kerisauan. Kualisi - kualisi dibangun dengan arsitek kelas Internasional.
Adalah 01 (Nol Satu) dan 02 (Nol Dua) masing - masing membangun kekuatan. Merawat tubuh dengan suntikan suplemen yang meng-kekarkan otot hingga Bom terkuat sekalipun tidak mampu mencabut nyawanya.

Telah berjalar hingga ke pelosok dengan mengatas namakan Nasionaliasem. Kubu dibagi, suara dipecah kedamaian berangsur sirna. Diatas wajah Ibu Pertiwi dibawah pekik sayap Garuda, Perpecahan semakin menjadi hingga Isyu Peperangan dibuat.
Begitu banyak masyarakat polos ikut tertarik dengan lantunan musik yang dimainkan dengan berbagai suara. Hampir sebagian rakyat ikut menari dengan gaya yang sama. Sementara itu, Perpecahan semakin menjadi - jadi.

Maka yang perlu dikutuk adalah 01 dan 02. Kenapa hal hina harus menimpa bangsa yang damai ini. Kenapa ambisi kekuasaan akhirnya harus menjadi pemisah imaji dan cita - cita.

Tuhan diabaikan, Wasiat Pendahulu dilupakan, Kesakralan persaudaraan di kesampingkan. Lalu dengan apa lagi kita berdiri menentang terjangan Kera Putih yang tidak segan - segan melahap habis tubuh dan jiwa ibu pertiwi.

Mengecam Isyu Perpecahan

Proses penghitungan hasil pertandingan kian beranjak menuju puncak hari. Ketika itu pula deklarasi dan cacian semakin ramai menjadi bahan diskusi.

Hingga Ibadah Puasa yang agung kini dikotori oleh rumpi - rumpi kekuasaan yang memihak membela, yang oposisi menolak. Sementara itu semua berlangsung, para pengayom dan penjaha ketentraman rakyat diisyukan ikut melibatkan diri.

Di sana - sini, Podium - podium semakin dikawal. Siapapun yang berani bersuara sedikit lantang akan ditangkap. Iya, ditangkap karena Isyu yang beredar bahwa akan ada gerakan perlawanan karena "atas nama masyarakat, Ingin mengganti pemipin". 

Mas, Positif akan ada perang ketika tanggal 22, Demikan tukang ojek membisik pada setiap perjalanan. Ruang Demokrasi seperti mati. Karena untuk mengkritisi pemimpin kita diharuskan menggunakan bahasa yang sopan dan halus. Padahal tidak sedikit masyarak depresi yang saat ini mendidik sudah darahnya melihat hukum di otak - atik layaknya baris yang tidak ada apa - apanya. 

Bahwa perang atupun perpecahan harus di kutuk karena bangsa ini besar oleh sebuah persatuan. Meskipun tidak semua kota diistimewakan. 

Lantas Harus Bagaimana?

Kembalilah ke kamar, merenunglah bahwa kita adalah tubuh yang satu dan nyawa yang satu. Kita seperti hidung dan mata, masing - masing diciptakan untuk berperab sesuai perangan.

Sebaiknya kita belajar dari kisah masa lalu. Kisah kerajaan - kerajaan yang pernah jaya dan kemudian lenyap karena ambisi kekuasaan serta kelalaian pemipinnya. Apakah Indonesia harus bernasib seperti itu? Tentu saja tidak.

Nasionalisme adalah sebuah semangat persatuan. Sementara Nasionaliasem adalah semangat untuk menciptakan negeri yang berisikan kaum - kaum lapar yang banyak mengidap penyakit asam lambung. 

Pulanglah kau yang mulai sadar. Kembalilah dalam balutan Merah Putih. Dibawah naungan kepak sayap Garuda dan dekap Hangat Ibu Pertiwi.



Penulis: Damanhury Jab
Status   : Rakyat Indonesia
Editor  : Redaksi Indikatoralor.com