Menggugat Aktivist - Politisi dan Aktivist - Pengkhianat -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Menggugat Aktivist - Politisi dan Aktivist - Pengkhianat

Thursday, May 2, 2019

Entah Memasang atau Melepas. Perjuangan tetap berlanjut. Karna Mundur adalah Pengkhianatan.

Indikatoralor.com - Diatas tanah berpenghuni kaum - kaum jelata yang kebingungan saya layangkan bait ini kehadapan abang. 
Ketika siang tertutup kabut hitam, padahal dua hari terakhir baru kita lalui dua momentum besar. Hari Buruh Internasional (Hari dimana dulu abang - abang jadikan sebagai Hari Raya yang penuh dengan keharmonisan bersama para kaum buruh yang kala itu hingga saat ini terlunta - lunta nasibnya) 1 Mei 2019. Serta Hari Pendidikan Nasional (Hari dimana abang - abang sekalian selalu meneriakkan tentang kemerdekaan seorang anak bangsa yang saat itu hingga kini masih belum tersentuh oleh metodologi pendidikan untuk generasi merdeka) 2 Mei 2019.

Ketika baris ini perlahan saya rangkai, beriringan pula gejolak kekecawan mengalir dalam setiap sendi dan pembulu darah saya. Dimana para pejuang keadilan yang dulu selalu Ibu/Bapak kami banggakan kini kembali memainkan lakon seperti dulu para pemain lakon yang mereka caci dan maki diatas mimbar / podium orasi politik. Rasanya ingin saya berak dan lempar ke muka abang - abang sekalian agar sadar bahwa betapa busuknya seorang pejuang yang membelot demi mengejar fasilitas yang memanjakan dirinya sementara itu dia lupa akan garis perjuangan yang harusnya ia pegang teguh.

Lidah yang dulu seringkali abang - abang gunakan untuk membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan Diktatornya Orde Baru tampak masih tajam. Namun kini lidah itu telah menjadi mesin penghasil duit yang sebenarnya duit adalah hak mereka yang kini kehilangan tanahnya karna tergusur oleh serakahnya rezim yang abang - abang perjuangkan. Ataupun juga mereka yang kini hanya dapat menatap diam gedung - gedung yang berisikan kaum mata sipit ataupun kaum kulit putih yang berdasi sementara mereka harus berjuag melawan dinginnya angin malam dibawa kolong jembatan dan emperan toko. Sementara kalian memilih berselingkuh dengan Rezim yang pandai melipat - lipat lidah hingga Markobar berangsur berubah menjadi Tambang Batu Bara

Saya melihat betapa bangganya anda - anda sekalian bermain parodi diatas mimbar pemilik kebijakan bahkan diatas air mata keluarga yang menagisi kejanggalan atas kabar Widji Tukhul, Mayat Marsinah dan Munir. Abang akhirnya lupa siapa abang. Bahkan lupa indentitas, sumpah dan garis perjuangan.

Ketika situasi negara hampir tiba di ambang kehancuran abang duduk dengan santai diatas kursi putar, di depan rakyat - rakyat yang selama ini tertipu. Dengan penuh percaya diri abang berdebat hingga mulut berbusa dan berbau (Lebih busuk dari taik meskipun abang semprot dengan parfum impor). Betapa kasihannya anda. Rela mengais kepingan harta hingga lupa akan sumpah meskipun berkoar dan diseret kedalam terali. Inilah salam saya:

Jadilah Politisi Yang Bijak
Saya melihat dengan seksama betapa akurasi dialektika warisan jalan raya yang masih begitu fasih ketika abang mengadu argumen di hadapan para pendukung pasangan Calon Babu Rakyat. Entah apa menariknya menempati posisi itu, abang rela menelanjangi setiap kepala yang ingin beradu dengan kerasnya isi kepala abang. 

Apakah abang tau? Bahwa yang abang bela itu adalah Rezim yang telah merebut kebahagiaan anak - anak bangsa yang harus hidup jauh dari ayah mereka karen ayah mereka harus menjadi babu di negeri orang serta perempuan - perempuan kesepian yang ditinggal suami untuk jadi TKI. Ataupun mungkin abang lupa bahwa rezim itu telah mematikan kritisnya mahasiswa dan berkurangnya penerus jalur perjuangan abang di Jalan Raya. Atau jangan - jangan sebagai yang telah berpengalaman, kejadian hari ini merupakan bagian dari campur tangan abang - abang dalam merancang regulasi agar rezim dapat seenaknya melahap habis nyawa Kelompok Intelektual Kampus yang Merdeka?

Ingatlah, abang - abang adalah publik figure dan contoh bagi kami maka edukasikan dengan baik bagaimana berbicara tentang kesejahteraan sosial disertai dengan tindakan nyata. Edukasikan kepada kami Politik yang baik itu seperti apa. Saya yakin, jiwa kebijaksanaan yang lama tertutup oleh kaca mata pragmatis itu masih ada dalam diri abang - abang yang saya anggap sebagai Maha Guru.

Jangan Lagi Bikin Onar
Sungguh tidak beruntung sekali mereka yang tidak mengenal siapa abang - abang dulunya. Sosok - sosok gagah yang tidak lari ditodong laras panjang tameng rezim yang menindas. Betapa keras kepalanya abang berani menerjang Gas Air Mata dan pelor - pelor tajam ABRI kala itu.

Memang wajar jika saat itu abang dikenal sebagai tukang bikin onar. Tapi, apakah abang merasa saat ini masih layak bikin onar diatas sana? "tentu tidak". Kenapa tidak? Karena abang harus menunjukkan kepada kami betapa berwibawanya menjadi aktivist yang kemudian menjadi pejuang kesejahteraan masyarakat di gerobong/jalan pembuat regulasi dan penentu kebijakan.

Jika sekarang, abang bikin onar diatas sana maka itu sudah tidak zaman lagi. Sekarang waktunya abang membina kelompok - kelompok pejuang muda agar mereka dapat mengasah mental mereka sebagai petarung yang setia mengawal kebijakan yang janggal.

Ingat!!! Surat ini surat pertama yang akan berlanjut. Jangan lagi keras kepala atau lacurkan Idelisme demi Materi yang tidak abang - abang bawa mati.

Penulis: Ketua Perkumpulan Peduli Demokrasi Malang.
Editor Redaksi Indikatoralor.com