Sejarah Perkumpulan Nelayan dan Mengakarnya Peringatan Hari Nelayan pada Tanggal 6 April -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Sejarah Perkumpulan Nelayan dan Mengakarnya Peringatan Hari Nelayan pada Tanggal 6 April

Tuesday, April 9, 2019

Hari Nelayan 2019 (Private Docs)

Indikatoralor.com - Terabaikannya nelayan dalam catatan sejarah gerakan rakyat tidak terlepas dari paradigma pembangunan yang sekian lama berorientasi kedarat,  selama orde baru hingga awal reformasi.

Orientasi daratan dibuktikan bahwa sejumlah departemen yang dibentuk dan dulu hingga awal reformasi 1998 semuanya berbasiskan daratan, barulah setelah Gus Dur menjadi Presiden kemudian perhatian terhadap kelautan dan perikanan mulai berkembang. Hal  ini juga tidak terlepas dari para ilmuan sosial yang selama ini lebih banyak mengkaji soal daratan, seperti pertanian, industri dan bahkan kajian politik.

Namun, sesungguhnya budaya perjuangan nelayan telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran koperasi perikanan di Indonesia dimana terdapat perkumpulan nelayan yang bekerja dalam bentuk koperasi sejak tahun 1912 di Tegal, hingga dalam masa pendudukan Jepang (1942-1945) semua organisasi Nelayan itu dijadikan Koperasi Kumiai perikanan. Tugas utamanya adalah mengumpulkan dan mengawetkan ikan untuk keperluan bala tentara Jepang.

Perkembangan perkumpulan nelayan dalam menghadirkan koperasi untuk meningkatkan taraf hidup nelayan yang layak sebagai warga negara yang merdeka, dapat dilihat pada bagan berikut :

Selain perjuangan dalam dalam menghadirkan koperasi perikanan di Indonesia, pada masa orde baru tepatnya pada tanggal 21 Mei 1973 diadakan kongres nelayan nasional pertama dan semua bergabung dalam satu wadah, yaitu Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) serta diresmikan langsung oleh Presiden RI Soeharto sebagai wadah perjuangan nelayan.

Seiring dengan kondisi sosial politik Indonesia saat itu, HNSI sempat menjadi motor politik Orde Baru, namun dengan bergulirnya Era Reformasi di Indonesia HNSI otomatis menjadi organisasi bersifat profesi, non politik dan independen. HSNI memiliki jaringan yang sangat kuat, infrastruktur yang dimilikinya kokoh mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Kini, HNSI memiliki 33 DPD (Dewan Pimpinan Daerah) tingkat provinsi, 359 DPC (Dewan Pimpinan Cabang) tingkat Kabupaten/Kota serta tidak kurang dari 16,2 juta anggota yang berada di sentra-sentra nelayan seluruh Indonesia.

Dengan pertimbangan tersebut Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) berharap kepada pemerintah untuk menetapkan 21 Mei sebagai Hari Nelayan Nasional. Namun tradisi yang mengakar dimasyarakat pasca Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, diantara dan didalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Kemudian melahirkan UU No. 4 prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.3 Lebih dari itu pemerintah juga melihat berbagai antusias kehidupan sosial para nelayan yang sering mengadakan syukuran-syukuran laut dengan pesta yang digelar secara tradisional, sehingga salah satu cara untuk mengapresiasi para nelayan dengan selalu merayakan Hari Nelayan Nasional setiap tanggal 6 April sejak tahun 1960 dimana setiap tanggal tersebut Indonesia merayakan dan mengapresiasi jasa-jasa para nelayan.

Sejatinya, Hari Nelayan merupakan tradisi turun-temurun untuk mengungkapkan syukur atas kesejahteraan hidup yang diberikan kepada masyarakat pesisir terutama untuk para nelayan yang keseharianya bekerja dilaut mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dibeberapa daerah upacara ini diisi dengan tarian tradisional dan pelepasan sajen ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan nelayan semakin meningkat pada musim tangkap selanjutnya dimana umumnya sering diawali pada bulan April. Namun, berbeda dengan tempo dulu, sajen yang digunakan dewasa ini berupa benih ikan, benur (bibit udang) dan tukik (anak penyu) seperti halnya yang sering dilakukan di berbagai daerah seperti Pelabuhan Ratu di Banten.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya sejarah singkat yang telah mengakar di Masyarakat sejak tahun 1960 bahwa tanggal 6 April adalah Hari Nelayan secepatnya ditetapkan sebagai Hari Nelayan Nasional secara resmi sehingga kita semua dapat memberikan apresiasi dan dukungan pemberdayaan kepada nelayan di Indonesia yang jumlahnya 800 ribu KK.4

Penulis : Afan Afandi, S.Pi
Satatus : Sebagai Aktivis IMM, pemerhati sektor kelautan dan perikanan, sekaligus Mantan Sekretaris Jendral Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI)
Editor  : Pemred (MA)