Sejak Dulu Beginilah Lelaki -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Sejak Dulu Beginilah Lelaki

Wednesday, April 10, 2019

Illustrasi Tulisan

Indikatoralor.com - Gelap pasti jumpa terang, seperti matahari yang selalu berganti shift dengan bulan. Dalam keremangan malam ungkapan kesal mengalir dari bibir keluh sang belia yang tengah pupus harapan. Di antara altar waktu kata tertatih mengenang wajah dan segala lekuk senyum.

"Kenapa tak kau bawa pergi saja rasamu? Atau sengaja kau tinggal agar penyiksaanmu semakin sempurnah?
Sekejam inikah Cinta yang pernah kau agungkan?
Semudah inikah kau kubur masa indah kebersamaan kita?"

Sungguh tidaklah mudah menutup kubangan luka. Setelah kisah bertukar kisah, tergulir pada setiap pojok tempat mengukir cerita. Akhirnya cambuk menyayat "Kulit Rasa" yang tipisnya seperti udara. Tak tersentuh tapi ada.

Yang tak terlihat adalah lelaki yang menyimpan luka dibalik ketegarannya. Yang tak tampak di depan mata adalah tangis pilu dari jiwa seorang lelaki yang tengah kehilangan raga tempatnya bersandar. Kemana kau hendak mengelak? Mungkin "Kau, Dia dan Mereka" adalah pemikul duka - duka masa itu.

Tidak ada yang tidak mungkin karna Qo'is, Rama dan Samson adalah bukti (Representasi) dari rapuhnya lelaki jika tertimpuk oleh derita Cinta. Mau lari kemana kau, jika panah Dewa Amor patah ditengah jantungmu? Manusia tetaplah manusia.

Legenda Prambanan, bukti kegagahan seorang lelaki yang berjuang merebut hati sang Nyai yang begitu menawan. Tangkuban Perahu, adalah bukti kemurkaan dan pupusnya rasa seorang Lelaki yang Cintanya tak kesampaian.

Memang terkadang seorang lelaki terlihat gagah dengan tubuh kekar, semangat juang tinggi, atau bahkan menjadi Public Figure yang tersohor hingga ke berbagai belahan dunia. Namun, dibalik ketenarannya terselip luka membekas bak pahatan tak teratur ditengah Meja Jati.

Mungkin akan banyak yang tersulut murka dengan bait terjejer ini. Namun Hati tetaplah hati, Sejak dulu lelaki memang begitu. 

Tak mau terlihat lemah dan berjuang menutup kubangan luka dengan memaksa memperisteri wanita tak berdosa namun Cinta adalah satu dan sekali seumur hidup. Hingga maut memisahkan ditengah Isak tangis anak  cucu ia berpamitan pada Dunia dan hanya satu Cinta yang ia bawah adalah Cinta yang telah merenggut akal sehat serta nadi ketulusannya.

Saya pernah melihat betapa tidak sedikit wajah - wajah orang sukses yang tampak memilukan. Menyebar senyum - senyum palsu. Padahal mereka tengah sembunyikan itu, mereka tengah hidup dalam kepura - puraan yang panjang. Kau tahu? Seperti seekor merpati yang meliuk - liuk dalam kehampaan. Atau lukanya seperti kutu busuk yang terpendam ditengah timbunan kapuk pada kasur di kamar tidur.

Karena lelaki begitu adanya, dia mudah melupakan sakit namun pandai merawat kisah. Dia terlihat tak peduli padahal dalam hatinya menangis, jiwanya terus memanggil nama yang sama. Sampai disini ketahuilah "Lelaki tak sekuat yang Terlihat".
**(Mengenal lebih jauh tentang kaum yang dianggap paling kuat)

Artikel ini Pernah dimuat di  Kompasiana.com dengan Judul "Lelaki Hitam - Putih

Penulis: Damanhury Jab
Status   : Dirut Indikatoralor.com 
Editor    : Redaksi Indikatoralor.com