Jangan Menjadi Budak Politik -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Jangan Menjadi Budak Politik

Sunday, March 17, 2019

Illustrasi Gambar


Indikatoralor.com -Sebagai seorang yang lahir dan besar jauh dari pusat kekuasaan dan kemerataan pembangunan), saya cukup senang melihat perkembangan di daerah. Saat ini, kesadaran anak muda sedang bangkit di berbagai tempat di luar Jawa. Generasi baru sedang lahir: mereka adalah orang-orang yang terpapar Internet dan mampu melihat perkembangan di luar daerah, atau, mereka adalah alumni sekolah rantau yang pulang kembali membawa ide-ide perubahan.

Apa yang mereka lakukan? Salah satunya adalah membikin komunitas. Mereka membangun gerakan, berusaha menyelesaikan soal-soal tertentu. Ada yang bergerak di ranah ekonomi (memberdayakan warga menekuni bidang bisnis tertentu, biasanya yang terkait dengan kekayaan alam dan budaya suatu desa), di ranah literasi (membuka perpustakaan dan mendorong kesadaran massa yang kritis), dan di ranah ekologi (mengolah sampah, kampanye pemeliharaan lingkungan). Mereka berusaha melakukan sesuatu, tiada bertopang tangan.

Perkembangan lain, kita melihat simpul-simpul gerakan itu menyatu dan membangun gerakan yang lebih besar dan meriah. Di Lombok, misalnya, simpul besar gerakan literasi mengajak simpul gerakan lain (kebudayaan, pendidikan) untuk membuat festival tahunan.

Maka coba lihat lebih dekat perkembangan itu: ada sekumpulan anak-anak muda berkumpul; mereka punya semangat membangun negeri, namun tanpa iming-iming “komisi”, baik berupa jabatan atau uang. Mereka mengutamakan keadilan dan kemakmuran bersama alih-alih kemenangan primordial dan kekuasaan. Biasanya mereka kritis dan merdeka, bukan idealis di mulut karena mereka sungguh-sungguh besar dari rahim rakyat.

Bagi saya, fenomena di atas merupakan kabar gembira. Anak-anak muda itu basah oleh pengalaman beraroma “akar rumput”.
Merekalah calon pemimpin masyarakat di masa depan. Sengaja saya pilih kata ‘masyarakat’, bukan rakyat, sebab saya percaya, menjadi pemimpin tidak harus melalui proses politik penuh muslihat; proses yang atasnama cita-cita luhur, membolehkan kaki melangkah di koridor yang tidak benar. Ajaran Ahimsa Gandhi, buat saya, lebih berharga untuk diikuti, daripada seruan politik praktis.

Saya berpendapat begini karena telah melihat sejumlah potensi muda yang ‘tercemar’ lantaran polarisasi politik (antara kubu Jokowo dan Prabowo) yang telah berlangsung sejak 2014 ini. Tercemar maksudnya, ketajaman logika dan keadilan pikiran mereka menurun jauh, akibat membabi-buta membela satu kubu dan melecehkan kubu lain. Saya berharap mereka bisa mengedepankan kejernihan dan keluasan wawasan, tapi fanatisme telah menjatuhkan kualitas intelektual mereka.

Apakah memang seperti itu tabiat budak politik? Harapan yang terbit melihat perkembangan gerakan komunitas sejak tahun 2013 itu jadi terancam oleh peristiwa politik yang tidak ditopang kebijaksanaan.

Kadang saya berpikir, apakah budak-budak politik itu tidak menyadari bahwa ternyata ada sisi “percumanya” juga suara mereka berikan pada paslon-paslon itu? Capres bukanlah sekadar capres; capres menanggung titipan kepentingan dari berbagai pihak, baik yang nampak di muka media maupun yang tidak. Maka, sejatinya suara yang diberikan rakyat bukanlah semata untuk si capres, melainkan untuk para pemilik kepentingan itu. Sehingga, ketika seorang capres menang, yang menang bukan hanya capres; yang menang adalah para pemilik kepentingan.

Namun herannya, kajian tentang dari manakah dana kampanye berasal, bagaimanakah dana kampanye digunakan, dan bagaimanakah dana kampanye harus dikembalikan nanti, tidak pernah dikaji secara kritis di musim politik ini. Alasannya mudah: bila kajian semacam itu marak, dikhawatirkan akan membongkar seluruh kesadaran rakyat.

Saya tidak anti politik, dengan menulis pandangan semacam ini. Saya senang melihat anak muda yang berpolitik dengan gagasan, dan memperlihatkan permainan cantik sekaligus cerdas, alih-alih hanya melulu bicara tentang “pilih saya” dan “mau dana berapa”. Namun, saya merasa lebih senang melihat anak muda kembali ke ‘natura’-nya: politik gerakan. Mereka membangun lebih kongkret dari sana. Mengubah dari pinggir, bukan dari dalam. 
Dalam politik gerakan, anak muda lebih merdeka dan berdaya. []

Penulis:  A.S. Rosyid 
Status   :   Pemred Djendela.co, penulis cerita “Gerimis di Atas Kertas”.
Editot    : Redaksi Indikator Alor News