Ra'e Lowara, Keunikan Tradisi Masyarakat Solor -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Ra'e Lowara, Keunikan Tradisi Masyarakat Solor

Saturday, January 26, 2019

Foto. Teluk Solor (Wan)

Indikatoralor.com - Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata menyimpan sebuah kekayaan budaya yang sangat unik dan mampu membuat siapapun pasti tercengang dengan tradisi ini setelah mengetahuinya.

Tradisi yang dikenal oleh masyarakat solor dengan nama Ra'e Loowara ini merupakan sebuah rangkaian dan upaya yang dilakukan oleh pasangan yang saling suka untuk menuju ke proses pernikahan.

Ra'e Lowara yang dalam Bahasa Solor artinya Kemauan daripada sepasang kekasih yang sudah ingin menikah ini dilakukan  dengan cara yang jika dilihat oleh orang luar yang belum pernah mengenal tradisi seperti ini pasti akan terheran heran dang kaget.

Iya, dalam tradisi unik ini Gadis yang ingin dinikahi oleh pasangannya tapi kedua orangtua mereka belum mengetahui hubungan Cinta mereka. Akan melakukan upaya yang bisa dikatan "Kabur dari Rumah".

Dalam pelaksanaan ritual ini, Si Gadis akan dibawa keluar dari rumahnya pada malam hari sekitar pukul 10 malam ke atas dan mecari tempat perlindungan dirumah Opu (Ipar dari laki - laki yang mau menikahi si Gadis). Dalam tradisi ini, Ipar yang memiliki rumah tidak bisa (Gerar'a/Pamali) untuk menolak kedatangan mereka.

Pada besok harinya Ipar laki - laki yang sudah menerima kedatangan pasangan ini akan mengkonfirmasikan kepada orangtua si gadis bahwa anak gadisnya telah dibawa oleh Nana (Pamannya) mencari perlindungan di rumahnya.

Disinilah keunikan daripada tradisi ini akan mencapai puncak. Dengan mendengar kabar ini terkadang orangtua dari si Gadis ini akan menampilkan tanggapannya terkait kabar yang dibawah oleh Ipar laki - laki tadi. Terkadang ada beberapa orangtua (Ibu) yang hanya diam dengan kabar ini (Menerima jika anak gadisnya hendak menikah dengan laki - laki tersebut). Akan tetapi, ada diantaranya para Ibu dari si gadis yang tidak terima dengan kabar tersebut.

Jika Ibu dari gadis ini tidak terima dengan langkah yang ditempuh oleh anak gadisnya maka dia akan mendatangi rumah dimana pasangan kekasih tadi mencari perlindungan dan menumpahkan emosinya. Biasanya Ibu dari gadis yang tidak menerima akan hal ini akan leluasa menumpahkan emosinya pada rumah dimana anak gadisnya berlindung (bahkan menghancurkan sesuatu yang ada dalam rumah perlindungan pasangan inipun tidak dipersoalkan).

Dalam kurun waktu 2 sampai 5 Jam Ibu dari si gadis ini akan menumpahkan emosinya dan akan berujung dengan jalan damai dan siap menerima keputusan yang sudah ditempuh oleh anak gadis dan pasangannya serta merestui keinginan anaknya untuk menempuh kehidupan berumah tangga.

Tentunya ini adalah sebuah tradisi yang sangat unik dan jarang sekali dijumpai. Meskipun tampak sedikit keras dan kurang ramah dalam menghadapi persoalan ini, namun ini hanyalah sebuah tradisi dan pastinya jika pembaca sudah memahami ini akan menganggap aman - aman saja.

Akan tetapi, tradisi  Ra'e Loowara ini semakin hari semakin terkikis oleh perkembangan zaman dan gaya hidup modern generasi. Semoga masih ada generasi yang bangga memiliki tradisi unik ini dan dapat kembali melestarikannya.

Penulis :  Jab
Sumber : Sodara Ata Solor (Wan)