Penolakan Pengajian dan Citra Banser -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Penolakan Pengajian dan Citra Banser

Saturday, January 5, 2019

Foto Penulis

Indikatoralor.com - Penolakan pengajian kini sedang marak di berbagai daerah. Para ulama yang melakukan dakwah sering kali dicekal, deskriminasi, dan diusir dari tempat itu. Alasannya, isi dari dakwah mereka berbau radikal.

Radikal sering kali diartikan sebagai tingkah laku atau perbuatan seseorang yang berbau ekstrem. Ekstrem yang dimaksud bisa bersifat positif maupun negatif. Tujuannya yaitu untuk membela kepercayaan, prinsip, dan ideologi yang dianutnya.

Para alim ulama yang memiliki tugas mulia seharusnya dilindungi, bukan sebaliknya. Tetapi, ada saja yang mencekalnya. Akibatnya, para ulama tersebut gagal untuk melakukan dakwahnya.

Contoh saja saat Ustad Khalid Basalamah dilarang dakwah di Masjid Hasyim Asyari. Menurut Yaqut (ketua GP Anshor), pengajian Ustad Khalid Basalamah boleh-boleh saja asalkan tidak menyalahkan kelompok penganut yang tidak sepaham. Pada dasarnya dakwah merupakan tugas mulia, adapun perbedaan pendapat itu wajar. Sebagai sesama muslim sepatutnya saling melindungi dan menjaga. Oleh karena itu, ulama harus dimuliakan, dihormati, dan dijadikan sebagai guru kita.
Sebagai seorang manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Kesalahan itu wajar sedangkan orang yang tidak memperbaiki kesalahannya itu tidak wajar. Oleh karena itu, dengan adanya ulama jalan hidup seseorang akan menjadi lurus menuju kebenaran sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun Banser (Barisan Anshor Serba Guna) PBNU memiliki tugas untuk menjaga dan mengawal ulama. Tetapi, sering kali oknum melakukan tindakan-tindakan yang berseberangan dengan tugasnya. Mereka  menghadang dan mencekal para alim ulama. Bahkan, demi uang 50 juta, mereka rela untuk menjaga gereja. Apakah uang segala-galanya?

Tak hanya itu, baru-baru ini mereka melakukan tindakan yang sangat kontroversial di Garut. Mereka membakar kain berukuran segi empat berbentuk bendera. Bendera yang dibakar bukanlah bendera HTI melainkan bendera berkalimat tauhid (Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah). Kejadian ini terjadi pada hari Senin (22/10/2018). Kejadian ini pun menjadi catatan merah di hari Santri tersebut. Hari santri yang seharusnya diisi dengan kegiatan cinta agama malah dinodai dengan penistaan agama.

Akibatnya, kaum muslim dari berbagai daerah berbondong-bondong untuk menggelar aksi cinta kalimat tauhid. Aksi ini menjadi bentuk kemarahan atau kekecwaan atas insiden yang terjdi di Garut. Hal ini perlu didukung sepenuhnya oleh semua pihak termasuk pemerintah.
Pemerintah termasuk kepolisian harus menindak secara tegas dengan apa yang telah dilakukan oleh oknum berbaju loreng tersebut. Agar, situasi dalam negeri menjadi kondusif seperti semula dan konflik cepat terselesaikan. Sehingga, perjuangan umat selama ini membuahkan hasil.

Tak hanya itu, PBNU semestinya meminta maaf atas kejadian yang menimpa jajaran dibawahnya. Selaku organisasi yang telah lama berdiri seharusnya, memiliki tanggung jawab penuh atas kejadian ini. Sehingga, kepercayaan umat terhadap NU tidak melemah.

Perlu digaris bawahi bahwasanya semua anggota Banser PBNU tidak seperti itu. Masih banyak dijumpai anggota yang menjalankan amanahnya dengan sungguh-sungguh. Jangan mau kita diadu domba oleh pihak-pihak yang benci dengan Islam. Pada dasarnya sesama muslim adalah saudara.

Penulis : Sabil Praksa Nugraha
Status   : Mahasiswa UMM
Editor    : Damanhury Jab
Redaksi :indikatoralor.com