Budaya Nusantara “Tenggelam”? -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Budaya Nusantara “Tenggelam”?

Thursday, January 3, 2019

Foto Penulis
Indikatoralor.com - Beberapa waktu lalu sempat saya singgung tentang budaya lokal dalam sebuah diskusi. Budaya lokal kian hari kian tersingkir nyaris terabaikan oleh masyarakat kita. Hal ini bukan hal yang baru melainkan terjadinya perubahan paradigma dalam masyarakat kita.

Meskipun gelombang, bordless pada kurun waktu yang sangat singkat, pasang begitu hebat selayaknya kita tidak mengabaikan dan meninggalkan budaya lokal yang sudah terbukti menghasilkan generasi hebat. Kita hebat bukan karena budaya asing atau impor melainkan budaya kita sendiri. Kita lahir dengan budaya lokal bukan budaya asing. Janganlah bangga setelah membaca Harry Porter sementara kita tidak paham tenteng Belenggu. Jangan angkuh setelah kita paham temtang Hamlet tetapi kita tidak mengenal Siti Nurbaya. Banyak kekurangan kita dalam berbagai hal terutama terkait dengan pemahaman dan pengfungsian maksimal budaya lokal, karya lokal, produk lokal.

Burger, Pizza, dan makanan produk asing yang begitu kental di lidah dan telinga remaja, sementara mereka tidak mengenal lagi jemblem, lemet, getuk, pecel, lodeh, urap-urap dan sebagainya. Apa makna frasa back to basic? Kembali ke desa atau kembali kearah alami dan natural? Ketika Zaman Imron berkisah tentang Badik, saat Emha Ainun Najib bercerita tentang “kebenaran”, tatkala Taufik mengeluhkan sikap manusia Indonesia, semua belum tergugah untuk kembali kepada sesuatu yang alami-hakiki-natural-local wisdom. Di sisi lain, impor segala barang mewah sudah biasa terjadi di Nusantara tercinta ini. Jika dicermati barang bagus sudah pasti mahal dan setelah diteliti ternyata bukan produk lokal. Ironis memang, yang tidak mahal sudah pasti produk lokal dan belum banyak dilirik orang berduit.

 Produk dari desa tidak bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, kesenian masyarakat terkalahkan oleh kesenian “:modern” entah seperti apa bentuk dan performansinya. Ada apa di Gunungkidul? Kemarau yang tidak pernah pendek? Selalu kekeringan dan kepanasan? Kekurangan air bersih?

Ada beberapa daerah yang terunggulkan dari aspek kesenian. Ada puncak-puncak budaya di setiap daerah. Puncak-puncak kesenian/kebudayaan yang bisa dijadikan sumber ekonomi kreatif. Sebut saja lagu-lagu daerah Banyuwangi, Topeng Malangan, Ludruk Surabaya dan lain sebagainya. Masing –masing memiliki kesenian/kebudayaan khas daerah setenmpat yang perlu mendapat perhatian.

Mengandalkan perhatian lebih dari pemegang kebijakan sama artinya dengan menunggu hujan pada musim kemarau panjang. Bukan berarti tidak perhatian melainkan ada hal yang bersifat regulative yang harus diselesaikan oleh lembaga yang dipimpin pemegang kebijakan. Karena itu, urursan kesenian dalam arti kebudayaan (mungkin) dinomor duakan. Implikasinya, pemilik kebudayaan lokal tampaknya perlu berpikir untuk mempertahankan dan memodernisasi kekayaan budaya lokalnya.

Jika pemimpin atau pemegang kebijakan di daerah tidak peduli atas kekayaan budayanya, maka bisa dipastikan bahwa kebudayaan lokal tersebut cepat atau lambat akan tenggelam, tersingkir dari keramaian, dan yang paling berbahaya adalah pengakuan negara lain terhadap kebudayaan lokal kita. Hal ini tentuakan memperparah penilaian banngsa lain terhadap ketifdakpedulian sikap masyarakat Indonesia terhadap kekayaan budaya lokal atau yang disejajarkan dengan heritage. Jika disadari kegunaan dan kepentingan nilai budaya lokal dalam rangka menanamkan sikap dan perilaku positif, maka kita akan berpikir kembali nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Bukankah butir-butir itu merupakan pengejawantahan nilai kehidupan bangsa Indonesia yang digali dari nilai budaya lokal, dari akar budaya tradisional, dari roh kehidupan masyarakat lokal. Ini juga warisan leluhur bangsa yang tidak terabaikan harganya. Kita adalah produk budaya lokal yang hidup di jaman modern.

Mau atau tidak, jiwa kita adalah Pancasila yang salah satu silanya bernilai gotong royong, bahu membahu, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Hal ini menyiratkan kepedulian terhadap sesama dan apa pun. Apakah kita akan kehilangan jati diri sebagai manusia timur yang andhap asor dan suka membantu sesama?

Penulis : Dzulkifli Arief Nurrohman
Status : Mahasiswa Pendidikan Matematika
Editor: Jab