Sengketa Edo dan Tuhan -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Sengketa Edo dan Tuhan

Monday, November 12, 2018

Illustrasi

Malam semakin larut ketika tiga pemuda yang sering berlomba menghitung dosa mulai bergegas meninggalkan warung kopi tempat mereka bergurau serta mengisi malam yang menurut mereka sangatlah menjenuhkan tanpa seruputan kopi buatan Dona bunga dari Medan.

Edo, Aris dan Boni. Tiga pemuda yang tanggung dan memiliki latar ras yang berbeda. Edo adalah pemuda papua yang  berkulit terang karna gelapnya luntur ketika berenang dari nabire ke Malang. Satunya lagi, Aris adalah pemuda tanggung yang merantau jauh - jauh dari Aceh dengan kulit terang dan rambut lurus sama halnya sepert Edo. Sementara Boni, Pewaris rambut keriting Khas Nusa Tenggara dan paling jago makan diantara Edo dan Aris.

Minggu malam tepatnya mereka tiba di rumah Edo pas pukul 3 dinihari setelah menyeruput kopi buatan Dona sang Bunga daeiri Medan di warung kopi favoritnya.

Sreeet !!! Pintu depan terbuka setelah speda motor Beat milik Aris yang sejak tadi dibebani dengan tiga orang penuh dosa ini memasuki ruang parkir di rumah Edo. Gelak tawa tetap menjadi teman tiga orang setengah gila yang punya panggilan akrab kampret ini.

Tembakau tulungagung, Cuka Tembakau dan kertas rokok menyambut mereka dengan senyuman hangat.

Tak ada rotan, akarpun jadi.
Surya boleh habis, asap tetap stabil ujar "Boni Kampret" si jago makan sembari melinting rokok dengan kertas yang tersedia.

Malam ini si Boni lagi kacau karna habis dihujani omelan dari nyonya. Maka sesi curhatpun dibuka. Seminar asmara dan konsultasi hati melebar.

"Tiga pemuda kampret" ini saling berbagi cerita. Aris pemuda Aceh memulai cerita cintanya yang tidak kesampaian lantaran keluarganya tidak merestui untuk tetap menjalin hubungan asmara dengan dengan wanita Idamannya lantaran keluarga ingin si Aris harus memberikan Hadiah menantu Jawa kepada mereka.

Kemudian dilanjutkan Boni yang galau antara memperjuangkan atau meninggalkan hubungan yang sudah ia perjuangkan selama dua tahun itu. Jikapun dia harus memperjuangkan maka dia haruslah siap dihujani dengan berbagai macam cacian dari orang - orang dekatnya. Ngmabang tanpa solusi kongkrit tapi gelak tawa bersahutan di akrih ceritanya layaknya orang gila.

Lalu sesi akhir Edo kemudian angkat bicara, kisah pemuda pengembara inilah yang paling miris diantara kedua sahabatnya. Edo pernah dicampakkan begitu sadis oleh wanita yang dielu -elukannya selama enam tahun, demi wanita itu edo menyiapkan segalanya. Membuka usaha, membangun rumah, hingga akhirnya yang diperjuangkan malah pergi tanpa sepatah katapun.

Namun diantara ketiga curhatan ini yang paling berbahaya adalah si kampret yang paling banyak Dosa, dia malah memprotes tuhan karna harus mengambil salahsatu sosok yang paling dia sayangi dari hidupnya Edo.

Sengketa Edo dan tuhan tampaknya semakin melebar, karna Edo kini sering mengajukan pertanyaan - pertanyaan yang berbahaya. Namun, kini sepertinya tuhan sedang mencoba kembali membuka ruang edo untuk diisi oleh sosok gadis peracik kopi kesukaan tiga kampret ini.

Semoga Edo lekas sembuh...

Penulis: M. Farhan
Editor: Jab