Memaknai Sumpah Pemuda di Era Milenial -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Memaknai Sumpah Pemuda di Era Milenial

Saturday, October 27, 2018

Immawan Fathur Dopong (Indikatoralor.doc)

Indikatoralor.com - 28 Oktober 1928 Menjadi saksi sejarah tonggak berdirinya perkumpulan anak-anak muda Indonesia dalam memperjuangkan pergerakan kemerdekaan, jauh sebelum Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober membawa pesan yang kuat bahwa persatuan harus ditegakan. Para pejuang yang terdiri dari Boedi Oetomo, Wage Roedolf Soepratman, Moh. Yamin, Sugondo Joyopuspito mereka bertekad dengan satu cita-cita, semangat yang sama melahirkan satu visi dan perjuangan bersama, yakni satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yakni Indonesia. Sejarah pun terukir di kala itu.

Makna dari semua itu tercatat sebuah jalan panjang anak-anak muda ketika itu memperjuangkan terciptanya kemerdekaan. Mereka adalah pelopor dan itu tidaklah dipungkiri, sejarah panjang telah mencatat, apa yang mereka lakukan semata-mata untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

Pertanyaannya, apa yang terjadi di era milenial ini, apakah pemuda masih memikirkan hal yang sama ketika Budi Utomo, Wage Roedolf Soepratman dan kawan-kawan tergerak melalui karya-karyanya hingga tercetar di dunia Internasional? Ataukah justru mereka terperangkap dalam hedonisme dan pragmatisme zaman edan sekarang ini.

Tidak dipungkiri, era milenial yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi telah mengubah kebiasaan-kebiasaan anak muda atau yang disebut “Zaman Now” ini cenderung lebih soliter, asyik dengan dirinya sendiri, asyik dengan dunianya.

Teknologi juga telah mengubah perilaku dan pola kehidupan anak-anak muda sekarang menjadi lebih sulit berinteraksi dengan orang lain, karena dengan teknologi semuanya serba mudah, membuat manusia merasa lebih bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa memerlukan interaksi dengan banyak orang.
Sebagaimana di ungakpkan Albret Einstein" Saya takut pada hari dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia dan akhirnya dunia akan memiliki generasi idiot. "  Interaksi sosial antar individu justru terjadi lebih banyak di dunia maya ketimbang nyata.

Keadaan seperti ini dikhawatirkan menjadikan generasi muda menjadi apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat. Parahnya lagi, ketika keadaan tersebut memicu pragmatisme dalam berpikir. Para pemuda tidak lagi memiliki semangat perjuangan. Seperti itukah potret anak muda Indonesia yang disebut zaman now itu?

Namun demikian, kemajuan teknologi juga bukanlah sesuatu yang harus ditakuti apalagi dihindari. Kenyataannya bahwa teknologi berhasil mengubah dunia, iya memang benar. Bahkan teknologi membawa perubahan pada bangsa ini, sudah banyak contohnya.

Yang demikian menjadi bukti bahwa justru kemajuan teknologi, seperti internet berhasil menjadi sarana yang mengubah kebiasaan, cara berkomunikasi atau perilaku para penggunanya di era digital saat ini. Internet menjadi semakin mudah diakses oleh banyak pengguna, baik di perangkat PC atau mobile seperti smartphone atau laptop.

Kemudahan akses tersebut akhirnya memunculkan peluang-peluang baru yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dari sisi bisnis seperti pemasaran atau jual beli online hingga melahirkan tren maupun profesi yang digeluti generasi milenial.

Selain itu sumpah pemuda adalah bukan acara serimonial belaka tapi mari kita memaknai perjuangan kaum muda yang memerdekakan Indonesia dan selanjutnya kita kembali mengfilterkan dan bertanya dalam diri kita apakah semangat itu masi ada atau tidal dan sejauh mana kita suda berbuat untuk bangsa.

Penulis: IMMawan Fathur Dopong
Editor: Jois