Degradasi Persatuan Dalam Kontestasi Politik 2019 -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Degradasi Persatuan Dalam Kontestasi Politik 2019

Sunday, September 16, 2018

Illustration (Source: Nusantaranews.com)

Indikatoralor.com - Opini menyebabkan begitu banyak masalah di bumi ini daripada wabah atau gempa bumi. Dengan memperuncing perbedaan pendapat, hal tersebut bisa mendatangkan bencana (Imam malik).

Menginginkan perubahan namun tidak mementingkan persatuan adalah hal yang tak mungkin terjadi karena perubahan adalah wujud dari persatuan. Tingkah kita yang terlalu kerdil dalam menyikapi situasi politik membuat kita tidak bisa menafsirkan mimpi. 

Bukankah Demokrasi adalah kiblat politik kita hari ini?, yang kita tahu secara bersama terdapat semangat dan solidaritas emosional dan kehendak bersatu yang kuat, namun karena kekeliruan manajemen pertarungan memperebutkan tampuk kekuasaan dalam bingkai demokrasi  di beberapa titik bisa dijumpai begitu banyak retakan-retakan bangunan arsitektur persatuan. 

Arus politik yang begitu deras membuat para petarung melakukan sebuah langkah preventif yang tidak epektif sehingga menyebabkan kondisi politik yang tidak sehat. Dari lautan Papua hingga perairan Sumbawa, kebeningan air kearifan masih tersisa, tetapi polusi yang ditimbulkan oleh limbah politik kian mendekat, mengancam ketahanan ekosistem kebudayaan. Tentu hal ini menjadi kekhawatiran karena bangsa ini dibangun atas dasar pertautan politik dari keberagaman budaya. Jika politik yang merupakan simpul pertautan itu rapuh maka persatuan tidak bisa diikat menjadi sapu lidi yang kuat, melainkan sekadar sekedar serpihan-serpihan lidi yang berserakan, mudah patah.

Tidak ada orang yang bisa berdebat dengan teorema / rumus matematika. Matematika adalah ilmu pasti, kita tidak bisa memperdebatkan sebuah kepastian. Adalah wajar untuk berbeda pendapat pada hal-hal yang tidak pasti (Voltaire). Untuk melancarkan pertarungan politik tidak sedikit aktor yang melakukan konspirasi, penghinaan terhadap lawan dan sebagainya menjadikan politik  sebagai sesuatu yang tidak baik dimata masyarakat. "Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tinggi tanpa menjatuhkan, jadilah baik tanpa menjelekkan" adalah kata-kata yang harus kita terapakan dalam setiap gerak-gerik kita bahkan dalam tubuh politik itu sendiri. Ataukah kita malah ingin melestariakan pemikiran-pemikiran Niccolo Machiavelli yang melakukan segala cara dalam kontestasi politik tahun ini. 

Rasulollah SAW telah cukup memberitahukan kepada kita tentang bagaimana berpolitik tanpa harus menjatuhkan. Mohandas K. Gandhi menengarai adanya acaman mematikan dari tujuh dosa sosial yang salah satunya adalah "Politik tanpa prinsip", Sehingga apa yang menjadi harapan dan esensi bersama yaitu menjadikan wilayah tercinta sebagai basis keberadaban (madani) terjerumus kedalam apa yang disebut Machiavelli "kota korup"(citta corrottisima), atau apa yang disebuat Al-Farabi sebagai "Kota jahiliyah" (almudun al-jahiliyyah). 

Praktik politik di negeri ini, dari tingkat Nasional hingga tingkat Desa sekalipun telah direduksi sekedar menjadi perjuangan kuasa ketimbang sebagai proses pencapaian kebajikan bersama.  Politik dan etika terpisah seperti terpisahnya air dengan minyak. Akibatnya kebajikan dasar kehidupan bermasyarakat seperti keberadaban, keadilan, dan integritas runtuh.  

Maka dari itu, marilah kita lepas warna kita masing-masing karena perubahan takkan pernah terwujud jika ego masih bersarang dalam diri kita. Arahkan pandangan kita jauh kedepan, tajamkan pendengaran kita karena alarm pembangunan untuk menjemput perubahan telah berbunyi, pilihan berada ditangan kita, apakah kita akan bangun lalu mengejar pembangunan itu dengan strategi persatuan, atau kita masih saja seperti anjing yang saling merebut tulang padahal sama sekali tak berisi dan mengabaikan alaram emergensi itu. Semua berada pada diri kita sebagai pelaku dan penikmatnya.

Penulis: Sendi Akramullah
Sumber: indikatorsumbawa.com