Bahaya, Nilai Tukar Rupiah Diambang 15.000 -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Bahaya, Nilai Tukar Rupiah Diambang 15.000

Saturday, September 1, 2018

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah (Ilustrasi)

Indikatoralor.com - Ekonomi Nasional mendekati titik sekarat alias lampu kuning apabila pelemahan nilai tukar rupiah terus berlanjut hingga tembus level Rp15.000/USD. Hal ini disampaikan Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira yang menerangkan, hal itu karena bakal meningkatkan biaya produksi. Senin, (2/09/2018)

"Batas psikologis dari beberapa uji stress test adalah 15.000. Kalau mendekati angka itu artinya lampu kuning mau merah. Perusahaan BUMN dan swasta kuat tahan pelemahan sampai 15.000. Diatas itu, potensi utang gagal bayar tinggi dan biaya produksi naik signifikan," ujar Bhima sebagaimana yang dilansir oleh Sindonews.com.

Sambung dia, menyarankan agar Bank Indonesia (BI) bisa menaikan suku bunga hingga 125 basis point jika rupiah telah menembus Rp15.000. "Karena tekanannya besar sehingga tidak cukup naikan bunga 125 bps. Harus lebih besar dari itu, namun tetap memerhatikan dampak ke sektor riil," jelasnya.

Penurunan rupiah mengikuti pelemahan mata uang sejumlah negara berkembang di antaranya peso Argentina, rupee India bahkan hingga Lira Turki. Apalagi, krisis Argentina ini memiliki kesamaan dengan Turki. Beberapa indikator kesehatan moneter dan fiskal Indonesia, Argentina dan Turki memiliki beberapa kesamaan meskipun kondisi Indonesia sedikit lebih baik.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, tidak menutup kemungkinan bahwa apabila pelemahan nilai tukar rupiah berkelanjutan bisa mempengaruhi inflasi. Meski demikian menurutnya kejatuhan rupiah sejauh ini belum berdampak pada inflasi inti atau core inflation. 

Pasalnya Inflasi tercatat masih akan tetap rendah di bulan Agustus. Sedangkan tingkat inflasi pada Juli 2018 adalah 0,28% yang disumbang inflasi inti sebesar 0,41% tertinggi sejak Februari 2017. 



Reporter: Redaksi