Puisi "Menulis Rasa" -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Puisi "Menulis Rasa"

Tuesday, August 14, 2018


1. waktu
suatu kisah telah hadir menggantikan
Kenangan akan suatu kerinduan
Satu kekosongan telah terisi
Kerinduan akan suatau jawaban
Waktu yang hadir , waktu yang pergi dan
waktu yang akan kembali lagi seakan
menjadikan hidup ini laksana sinar mentari
hadir saat pagi menjelang
ada saat siang memancang
indah dikala senja
dan tenggelam saat malam memanggil
setetes embun rona wajahmu
menampilkan indahnya sinar sang rembulan
kicauan burng menyanyikan suara kenangan
walau berujung akan suatu pertanyaan
untaian kata yang terikat masa
menanti hening dikala senja
dan menanti peristirahatan saat beranjak tua
waktu adalah teman
waktu adalah musuh
ia juga adalah jawaban
ia juga adalah pertanyaan
maka bertemanlah dengan waktu
dan kau akan tahu betapa berharganya ia
dan jawaban pun akan engkau temui

2. Aku ingin menulis
(tentang rasa)

aku ingin menulis sajak
tapi aku tak tahu
harus dari mana memulainya
otakku buntu
pikiranku melayang
imajinasiku terombang ambing
huh...........
namun aku tak menyerah
aku mencoba dan terus mencoba
kupacu otakku untuk berpikir
berikir menghasilkan  kata untuk mulai menulis sajak
namun tetap saja tak bisa
imajinasiku kalut tentang  rasaku
kupacu lagi otakku, pikiranku dan imajinasiku
bekerjasama menghasilkan kata yang ingin kuuraikan menjadi kalimat
yang indah untuk meluapkan rasaku
sesaat kata itu hadir dengan berpacu waktu aku merangkainya
namun nihil kata – kata itu hilang tanpa bekas
kucoba merangkai lagi
dengan semangat membaja
namun tetap tak bisa kosong dan hilang
tersadar aku bahwa tiada kata dan kalimat dapat kulukiskan
tiada ibarat sebagai umpama tentang rasaku padamu

3. AYAH

Ayah.....
Sosok yang selalu kucinta
Sosok yang selalu kurindu
Sosok yang mengajarkanku tentang arti kehidupan
Namamu yang tidak akan pernah meluruh bersama aliran waktu
Namamu yang akan selalu terpahat kuat di kedalaman hatiku
Namamu yang selalu kuingat bila aku mengingat Robb kita
Tetapi kini engkau telah tiada.....
Ayah.....
Bagaimana mungkin aku bisa sejenak melupakanmu
Sedangkan engkau adalah hati yang bersemayam dihatiku
Engkau adalah mata yang senantiasa menjadi penglihatanku
Engkau adalah napas yang selalu kuhirup memenuhi rongga dadaku
Engkau adalah matahari kami anak –anakmu dan ibu
Kepergianmu  berarti ketiadaan , ketiadaan berarti kehilangan
sungguh aku merindukanmu ayah....
Obat apa bagi rindu, kecuali pertemuan
Sedangkan aku masih hidup dan kau telah tiada
Aduhai ayah....
Ingatkah kau di sana apa yang sedang aku ingat
Ya Robbi....
Tak kuasa lagi aku merangkai kata ini...
Dan,  hanya permohonan yang tersisa
Dari lubuk hati yang penuh noda dosa
dengan rahmat –Mu yang meliputi segala sesuatu
kasihanilah daku dan ayahku
aku mohon ampunilah dosa ayahku
duhai Dzat yang selalu mendengar jeritan
Inilah aku yang merendahkan diri di hadapan- Mu

4. Khilafku

langit biru dihiasi awan yang indah
Aku duduk termenung di pintu rumah- Mu
terlintas di hadapanku tentang khilaf ku
ya, khilaf yang membelenggu seluruh hati dan pikiranku
khilaf yang menjadikanku seperti batu karang yang rapuh
tak mampu menahan gelombang ujian – Mu
hari ini hatiku gelisah
hari ini hatiku sepi
hari ini hatiku pilu
hatiku meronta kepada fisikku
meminta pertanggung jawaban atas tingkahnya
apakah ini???
mengapa hati dan fisikku bersebrangan
begitu terlenakah fisikku pada dunia ini
hingga tak peduli hatikku yang menjerit pilu
bertaubatlah.......
sebelum ia terlambat bagimu


5. Kembalikan Senyum Desaku

permadani hijau terbentang luas
udara sejuk menyelimuti
dihiasi indahnya nyanyian burung di pagi hari
decak kagum selalu terdengar
membvat desaku menjadi gagah
itulah keindahan desaku
kini semua hilang
hilang tanpa bekas
desaku yang hijau menjadi gersang
udara sejuk menjadi panas
burung – burung enggan bernyanyi
bencana alam silih berganti
kekaguman tidak lagi terdengar
hanya kesedihan yang tergambar
dengan sejuta pertanyaan dari wajah – wajah openghuni desaku
Desaku berduka
Desaku merintih
Desaku menangis
Apakah yang terjadi dengan desaku?
Kemanakah perginya desaku?
Di manakah aku ahrus menjemputnya kembali
Wahai tangan – tangan jahil
Mengapa kau hancurkan desaku
Kau tebang semua pohon tanpa ampun
Kau bangun gedung – gedung tinggi  tanpa belas kasihan
Kau ciptakan suasana pilu tanpa malu
Di manakah hati nuranimu
Wahai tangan – tangan jahil
Tahukah kamu desaku sedang memohon
Hentikan semua ini dan kembalikan senyumku
Kembalikan senyum desaku
Kembalikan senyum desaku