Muktamar, Mukjizat dan Kau -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Muktamar, Mukjizat dan Kau

Thursday, August 30, 2018

Illustration Picture


Indikatoralor.com
- Kabut Sore bercampur dinginnya udara kota ini terasa kian menusuk hingga kedalam pori - pori kulit. Suara speaker masjid samping kontrakan Boni terdengar sangat kencang dengan lantunan suara Adzan menandakan Waktu Maghrib telah tiba.

Boni yang baru selesai mandi langsung bergegas ke kamar mengenakan sarung dan kaos oblong bergambar Presiden Pertama Indonesia Ir Soekarno lalu duduk bersila di atas sajadah menunggu Adzan usai. Maghrib kali ini, berlalu dengan khusyuk diatas sajadah beraroma kan pewangi sasetan Downy Parfume.

Di depan Kontrakan terdengar suara sepeda motor memasuki halaman dan turunlah si Dodo Junior Boni yang setiap hari tak pernah lepas dari songkok hitamnya. Dodo adalah seorang aktivist Organisatoris yang mengakui dirinya sebagai pembela kaum lemah dan berpihak pada kebenaran.

Dengan gaya jalannya yang agak lenggak-lenggok,  Dodo menyapa Boni seperti seorang diplomat ulung, 

"Boss... Bagaimana kabar?"  Sembari tersenyum dan membakar sebatang rokok Djie Sam Soe andalannya. 

Setelah ujung rokok terbakar Dodo melanjutkan pembicaraannya,

"Siap Isi Muktamar kah?" Nantik tampil baca puisi ya., Sambungnya kemudian kembali menghisap rokok kretek tadi.

" Saya sih siap-siap saja" balas Boni yang sejak tadi sibuk memantau layar handphonenya (Maklum, Boni adalah seorang Journalist).

"Oke kalau begitu dipersiapkan teamnya dan segera kasikan nama ke Panitia Acara".

"Mantap Do, segera saya Konfirmasikan nama squad saya ya kalau begitu.

Demikianlah awal mula mukjizat Muktamar kali ini terjadi pada Boni sang pemuda yang bermimpi menjadi penguasa namun terperangkap dalam jiwa merdekanya sendiri.


***


Twing!!! Suara notifikasi Pesan WhatsApp  di handphone Boni dengan pengirim pesan Nomor baru.

" Assalamualaikum, Tum. Kami dari panitia Acara Muktamar XVIII Malang. Apakah ini betul dengan mas Boni? Mohon segera dikonfirmasi terkait kesiapan dan kebutuhan pementasannya besok dalam acara muktamar". 

Demikian bunyi pesan yang baru masuk.

Boni menjawab seperti biasa tanpa ada sedikitpun menaruh rasa curiga bahwa pemilik pesan ini adalah seorang makhluk ajaib yang nantinya membuat dia kembali katakan hal konyol itu.

Waktu berjalan semakin cepat, hingga H-1 kegiatan akan dilangsungkan,
Semua persiapan untuk pentas sudah disediakan oleh Boni dan 2 Anggotanya, menandakan mereka telah siap menyemarakkan gelanggang Muktamar tahun ini. Begitu juga dengan makhluk ajaib itu, dia tampak semakin sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perhelatan kegiatan Nasional ini.

Namun siapa sangka, dia yang sering bertemu dengan Boni lewat Chat tapi tidak sempat besua akhirnya dipertemukan ketika H - 5 Jam jelang Pentas Parade Budaya. Pentas ini menampilkan berbagai macam kreativitas Anggota organisasi dari berbagai Daerah di Indonesia.

Sore itu tepat Pukul 15.00, Boni dan kedua anggotanya tiba di Dome tempat berlangsungnya geladi bersih jelang penampilan. Maka disini pulalah, Mata berjumpa dengan mata dan hati terketuk ketika mata menyapa.

2 Kotak nasi tenggelam dalam perut dan 2 Pasang mata terteguh menatap dari kejauhan. Hingga penampilan dengan Sajak Sebatang Lisong berlalu, 2 mata meninggalkan rasa, rasa yang tak satu setanpun mampu mengartikan. Rasa ini adalah yang tidak terlontar namu tak mampu terpendam.

Maka rasa itu tetap bersarang menunggu hingga kata itu terucap ketika dada tidak lagi mampu menyimpan. Maka lahirlah dalam barisan bait tulisan ini. Muktamar adalah jalan Tuhan menunjukkan mukjizat dan menemui Kau.

"Ketika Kuucap kau Bilang tak Paham Apa - apa". Lalu aku harus bagaimana?


Penulis: Boni