Sekantung Beras, Mahar Untuk Melamarmu -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Sekantung Beras, Mahar Untuk Melamarmu

Thursday, July 5, 2018


Ilustrasi Gambar


Indikatoralor.com-"Cong, ayo ngaji Cong." Teriak Arul di depan jendela. Malam ini begitu dingin kawan, berselimut dan menikmati komik "one piece" chapter terbaru lebih seru dan menarik. Sebenarnya aku malas pergi ngaji, gara-gara kejadian kemarin malam. Sungguh, aku malu!

Dalam urusan ngaji- mengaji ini, aku sangat lamban untuk memahami tartilnya, mungkin aku tak memiliki bakat seni. Cengkoknya itu yang membuatku kewalahan, sebab tahu sendiri, suaraku ngebas bangat dan serak- serak basah. Kalau sedang ngaji, aku sering tersendak-sendak  bagaikan motor butut yang sudah tak kuat bahkan untuk kentut.

Minggu kemarin nasib sial menimpahku. Sebab dalam membaca al Quran, aku memakai metode hafalan. Namun nasib naas menimpaku, sebab guru ngaji mengacak ayat-ayat yang akan dibacakan.

Hukuman bagi yang tidak bisa membaca ayat yang telah dipilihkan oleh guru ngaji adalah dipukul dengan rotan. Tak terhitung pukulan rotan mengenai tubuhku, satu hal yang hanya bisa kulakukan yaitu menangis tiada henti.

Sepulang ngaji, aku menjadi bahan bulian, candaan, tawaan, bahkan kejadian ini menjadi trending topik di sekolahanku pada saat itu. Aku hanya bisa tertunduk dan terdiam.

Kejadian itu tidak membuatku berhenti mengaji, walaupun mentalku hancur berantakan, aku tetap berangkat mengaji, sebab kalau tidak, di rumah sudah ada rotan yang lebih besar dibandingkan rotan yang ada di rumah guru ngaji.

Teman-teman di kampung, biasa memanggilku Cong, ya cukup Cong saja. Nama yang lumayan keren bagiku, karena nama itu nama yang kunamai sendiri. Sebenarnya nama lengkapku Muhammad  Abduh, tapi panggil saja Cong.

Nurmala, anak guru ngaji, ia cerdas dan suaranya merdu sekali, apalagi  ketika melantunkan ayat-ayat suci al Quran. Tuhan! Begitu indah suaranya.

"Nurmala, jika kau menginginkan bulan, akanku persembahkan, walaupun aku tak sanggup menggapainya." Setidaknya aku tak berhenti berjuang.

Satu hal yang palingku inginkan saat ini, aku ingin belajar  ngaji bersama Nurmala. Mungkin hanya dengan begitu, aku akan bisa membaca al Quran dengan tartil. "Nurmala oh Nurmala!"

Sekarang musim panen padi. Berkah bagi anak muda seperti kami ini. Aku dan Arul biasanya menjadi kuli seharian full. Capek memang, tapi itulah perjuangan hidup.

Terkadang kami tidak digaji, cukup dengan sekantung beras, sebagai upahnya. Kami tetap bersyukur. Kurasa, sekantung beras belum cukup untuk jadi mahar buat adinda disana, tapi kalau memang kondisi tak memungkinkan, apapun bisa terjadi.

Sekarang umurku 25 tahun, sudah waktunya punya sandaran hidup. Dengan sekantung beras yang aku miliki, kuberanikan diri untuk melamar adek Nurmala.

Hari Jumat, tepatnya malam sabtu, waktu yang aku pilih untuk datang kerumahnya. Aku sungguh grogi dan panas dingin.

Ketika berhadapan dengan kedua orangtuanya, badanku menggigil. Kumulai dengan basi basi sebagai prolog, kumudian masuk pada pembahasan inti.

Bismillah, "saya datang kesini berniat ingin melamar adek Nurmala, saya jatuh cinta kepadanya dan saya ingin menjadikannya sebagai istri saya, untuk yang pertama dan terakhir." Aku menarik napas dalam-dalam!

"Kamu punya apa? Kok berani datang melamar anak saya?" Ungkap ayah Nurmala.

" Untuk sekarang saya hanya memiliki sekantung beras." Jawabku.

" Modal sekantung beras tidak cukup untuk menghidupin anak saya kedepannya." Lanjut beliau.

" Terkait hal itu, bisa diusahakan bareng-bareng pak." Lanjutku.

"Pokoknya saya menolak lamaranmu, silakan cari perempuan lain yang bisa kau tukar dengan sekantung beras". Tegasnya.

"Baik pak, mohon maaf telah mengganggu waktunya." Aku pulang dengan kepala tertunduk.

Sekarang aku sadar, ternyata perlu kerja keras lagi, untuk datang melamar anak gadis orang tak cukup dengan mahar sekantung beras.

Tak ada waktu untuk bermain-main lagi, istirahat itu setelah mati. Saatnya kerja keras, demi adek yang sudah menanti disana. "Nurmala, tunggu abang! Untuk selanjutnya, abang akan datang membawakan mahar yang lebih dari sekantung beras". Mohon bersabar!

Penulis: Taufik Rahman