Politik Sabung Ayam -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Politik Sabung Ayam

Sunday, July 1, 2018

Gambar Penulis
indikatoralor.com Pertarungan Politik jelang Pilkada Kabupaten Alor yang setiap tahunnya tampak sengit kini telah dimulai. Terdengar suara teriakan - teriakan para diplomat ulung diatas panggung dengan berbagai macam Intonasi dan gaya. Diantara mereka ada yang menggunakan gaya Hitler, hingga gaya Soekarno. Diatas panggung inilah sebuah deklarasi besar oleh para petarung bahwa akan berpartisipasi serta siap dalam pertarungan ini.

Di atas Panggung ini pula, Seluruh partai pendukung (Kualisi) bersamaan mengemukakan keputusannya didepan para peserta kampanye. Sungguh tampak sebuah pandangan yang sangat menawan. Para ketua - ketua Partai /Ketua DPW ataupun Perwakilan dari berbagai partaipun tidak lupa dipersilahkan untuk mengisi tempat terdepan diatas panggung politik. Betapa gagahnya terliha kala mereka bersanding dengan Calon Pemimpin (Calon Bupati dan Wakil Bupati).

Mengalirkan berbagai Janji - janji demi memikat hati para peserta Deklarasi. Tidak lupa diselipkan sedikit Jargon pembakar semangat agar para peserta Deklarasi tak loyo mendengar Pameran Retorika diatas panggung. Sungguh sebuah penampilan yang amat tinggi Nilai Estetikanya.

Namun bukan ini yang menjadi Sorotan dalam tulisan kali ini. Yang menjadi sorotan adalah pion - pion kecil di belakang para calon Pejabat Daerah yang sering disebut dengan Bupati/wakil Bupati. Ah, sungguh sebuah kenyataan yang menyakitkan jika kita amati. Cacian dan makian keluar dari mulut para tim sukses ini tanpa terbebani, fanatiknya sudah tidak mampu tertanggulangi. Laksana Gunung berapi memuntahkan lahar panasnya hingga membakar pepohonan disekitarnya. 
Amboy... Betapa bobroknya edukasi politik di negeri ini.

Masyarakat awam menonton fenomena kacau ini dengan penuh kegelisahan tentunya. Ah, permainan yang kacau tanpa mengindahkan fatsoen politik lagi. Berangkat dari fenomena ini pulalah yang menjadi penyebab awal mula dan sesi utama hilangnya kepedulian dan kepercayaan sebagian besar masyarakat terhadap politik (Apolitis). Kita kembali ke Dialektika kosong dan kacau tadi. "Layaknya seperti anak - anak di Taman kanal - kanak berebutan mainan" mereka bersikap hingga tidak lagi memikirkan harga diri mereka. 
Goblok macam apa lagi ini ?!!!

Tanpa mereka sadari mereka tidaklah jauh berbeda seperti ayam - ayam di dalam arena sabung. Mereka bertarung berdarah - darah namun tidak pernah berpikir bahwa ketika dia diserang dan berdarah seperti itu, maka hanya dialah yang nantinya akan terkena Imbasnya. "Loyalitas tak sekonyol itu kawan". Saling mencari kesalahan, saling Sleeding tekling dan saling menghujat semakin menjadi - jadi kala para profokator yang tidak suka dengan ketenangan Pilkada mulai memasuki arena Dialektika. Betapa polosnya. 

Inilah fenomena nyata yang saat ini terjadi disekitar kita. Kita sebagai masyarakat yang secara garis sejarah, budaya dan cita - cita memiliki banyak kesamaan, harus membuka mata. Lihatlah dia yang engkau maki, dia adalah saudaramu yang saat ini juga sedang merindukan sebuah perubahan sama halnya denganmu. Maka, saling mencaci bukanlah langkah terbaik untuk bertarung karna tidak menutup kemungkinan kata - kata yang menyayat akan membekas. Semoga ini bisa menjadi bahan refleksi kita bersama. Terutama saya yang masih terlalu putih ditengah warna warni dinamika Politik Kota Kusambi (Kota Kalabahi) yang tercinta. 

"Kalabahi adalah Kota Kasih sayang, Bukan kota Penyulut Kebencian"