Pesta Rakyat atau Pesta Pejabat -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Pesta Rakyat atau Pesta Pejabat

Monday, July 2, 2018

Gambar Penulis: Andi Munzir M.Padda merupakan Ativist PMII Makassar

indikatoralor.com-Pesta demokrasi telah usai diselenggarakan pada tangga 27 juni 2018, namun itu adalah awal petaka baru bagi Rakyat kabupaten Alor. Semua massa simpatisan dari kedua kubuh seakan- akan optimis kalau kandidat mereka yang akan menang pada PILKADA kali ini. Berbagai pertanyaan yang kadang bermunculan dalam benak. Apa yang terjadi dengan daerahku saat ini.

Elite-elite politik seakan membuat pesta besar-besaran. Mereka mendesain semua masalah ini dengan begitu terstruktur,rapi dan sistematis. kayanya kita harus berpiikir lagi kalau Pemilu itu pestanya rakyat.

Bagaimana tidak? sekarang coba temen-temen cari data, Pemilu itu dananya dari mana,trus yang "menikmati" uangnya siapa? Saya yakin temen-temen sudah tau pasti jawaban dari pertanyaan itu semua.

Trus sudah begitu apakah layak dikatakan pesta rakyat ketika mereka dijadikan sapi perah oleh para pejabat? Logikanya, semestinya yang bergembira itu adalah rakyat, bukan pejabat. Betul atau tidak ?.

Artinya apa? Pemilu itu hakikatnya bukanlah pesta rakyat, tetapi kayanya lebih bagus kalau dibilang pesta "p e j a b a t."
Mereka(para penjahat rakyat) memanfaatkan momen ini buat menipu dan "menghipnotis" berapa juta rakyat agar mau mencoblos ".

Mungkin temen-temen masih ingat ceritanya Aristoteles?, dia bilang kalau sebuah negara menganut sistem demokrasi yang murni, dengan kekuasaan tertinggi berada di tangan suara terbanyak dan kekuasaan ini menggantikan hukum dengan dekrit, akan memunculkan para pemimpin penghasut rakyat, yang menyebabkan dermokrasi tergelincir menjadi despotisme. Apa pernyataan "Aristoles" keliru ? kita bisa liat faktanya di daerah kita.

Daerah ini tidak menerapkan Demokrasi secara murni sudah seperti ini, apalagi kalau sudah bener-bener menerapkan secara murni, apa jadinya ?
Banyak ketimpangan-ketimpangan yang dilakukan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Rakyat disuguhi dan digiring secara paksa untuk mengkonsumsi berita-berita miring hingga kadang membuat rakyat semakin bimbang dan puncak dari semua itu akan timbul pertikaian dari kedua kubuh dan akhirnya rakyatlah yang jadi korbanya. Siapakah yang hendak disalahkan? Tentunya kita bisa menilai dengan pandangan kita sendiri. Bukan hanya itu disetiap media masa ataupun dunia maya banyak kita jumpai statement yang seolah-olah mengunggulkan salah satu paslon. Tanpa kita sadari kalau hal inilah yang membuat rakyat semakin yakin dan percaya kalau jagoan mereka yang bakal menang.

Akhir dari semua ini adalah ketika salah satu paslon terpilih maka banyak rakyat dari pendukung lain pastinya akan tidak terima dengan keputusan itu.