Perempuan Penunggang Kuda III -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Perempuan Penunggang Kuda III

Sunday, July 22, 2018

Perempuan Pengunggang Kuda


Indikatoralor.com- Laki-laki adalah hamba nafsunya, sedangkan perempuan adalah tawanan perasaannya.

Laki-laki mengucapkan, "aku mencintainmu sayang," dengan pikirannya dan perempuan menerima dengan hati yang tulus dan melayang
.....! Walaupun itu hanya bualan semata, namun perempuan menikmatinya. Sadarlah!

Perempuan diidentikan sebagai penggoda dan pendosa, "menurutku penyataan yang masih diragukan kebenarannya."

Hakikat perempuan sebagai pemuas laki-laki harus dihilangkan dari teks dan sejarah. Karena perempuan juga ditakdirkan untuk mengubah dunia. Perempuan akan mengubah dunia dan mengubah laki-laki, bukan hanya dengan fisiknya, melainkan dengan hatinya.

Perempuan penunggang kuda, begitu sebutannya. Masih misterius, entah siapa namanya. Aktivitasnya hanya melamun, mengenang romantisme masa lalu.

Dulu ia begitu cantik, bahkan seluruh pemuda kampung ingin meminangnya. Ia bukan hanya cantik secara budi, tapi ia juga cantik secara rupa.

Satu hal yang paling ia sesali, kenapa ia bisa jatuh dipelukannya Thohirin!
Pemuda kriting, pendek, bulat dan hitam. Tak ganteng sama sekali. Ia menggelengkan kepala. Sungguh, tak ada yang menarik darinya.

Di kampung, selain banyak kuda liar; juga banyak terdapat anjing liar. Hanya ada satu orang dikampung ini yang bisa menjinakan anjing-anjing liar itu.

Waktu itu, sepulang sekolah, perempuan penunggang kuda menunggangi kuda hitamnya. Ia pergi untuk mencari kangkung, untuk dimasak nanti sore menjelang maghrib.

Thohirin, anak yang sangat malas. Ia sekolah tapi tak sekolah. Jangan tanya dia udah lulus atau tidak! Karena itu bisa membuatnya marah!

Sore-sore, Thohirin sangat suka memancing di waduk Barasila. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahku. Di waduk ini, banyak terdapat ikan air tawar dan sayur-sayuran. Di waduk ini pula, jantung kehidupan bagi warga kampungku.

Seharian memancing, Thohirin tak mendapatkan satu ikan pun, ia begitu kesal. Bahkan ilalang disebelahnya pun udah bosan mendengar ocehan dan omelan Thohirin.

Arul, diam- diam menaruh rasa pada perempuan penunggang kuda, ia selalu mengawasi dan mengikutinya. Nafsu cinta terkadang memang susah untuk dikendalikan walaupun ia sudah melawannya.

Sehabis mengambil kangkung, perempuan penunggang kuda merasa gerah, ia penuh keringat. Ia ingin membasahi badannya di Telagah Bidadari. Teman-temanku menyebutnya demikian.

Dulu, di kampung, perempuan mandi di Telagah udah biasa tanpa sehelai benang, dan ini wajar-wajar saja.

Ia merasa sejuk dan adem, tapi ia tak sadar ada dua serigala berbulu manusia yang sedang mengintainya.

Seminggu kemudian, tiba-tiba ada pengumuman bahwa akan segera dilaksanakan pernikahan antara Thohirin dan perempuan penunggang kuda.

Arul pun memutuskan untuk merantau!


Taufik Rahman