Perempuan Penunggang Kuda II -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Perempuan Penunggang Kuda II

Monday, July 16, 2018


Foto: Penulis

Indikatoralor.com- Perempuan penunggang kuda pulang dengan kepala tegak, setelah menang dalam pacuan kuda minggu lalu.

Tak ada senyum, seperti biasa, ia selalu dingin. Entah apa masalahnya, yang jelas kabar burung menyebutkan, ia ditinggal kawin oleh suaminya.

Berpacuan kuda adalah pelampiasan baginya, karena mantan suaminya merupakan Joki yang sangat hebat.
Untuk saat ini tujuan hidupnya adalah mengalahkan mantan suaminya, difestival pacuan kuda bulan depan.

Hanya dengan begitu dia bisa membalas rasa sakitnya, penderitaan cinta dan tuna asmara, akibat dimadu oleh mantan suaminya.

Bagi seorang perempuan, tak ada penyakit yang lebih menyakitkan selain di duakan, racun mungkin lebih baik dibandingkan madu, begitulah gambaran kondisinya saat ini.

Untuk melawan mantan suaminya, ia rela naik turun gunung, hanya untuk belajar menunggang kuda. Kuda jantannya berwarna hitam, dia menamainya Soman. Yang artinya kuat dan tangguh, dalam kondisi apapun.

Guru Sobri, begitulah panggilannya. Ia adalah guru perempuan penunggang kuda. Beliau sudah berumur 80 tahun, tapi kondisinya masih bugar. Guru Sobri memilik satu istri dan 15 orang anak. "luar biasa, beliau begitu tangguh." Rahasianya cuman satu kawan, "rajin-rajinlah minum susu kuda liar." Cuman itu kuncinya.

Nama manta suami perempuan penunggang kuda itu adalah Thohirin. Dia adalah anak sulung Guru Sobri. Thohirin memang beda dengan saudara-saudaranya yang lain, dia liar dan agresif. Kata-kata dan ceramah tak mempan padanya. Usut punya usut, tenyata dia dibuat oleh Guru Sobri bersama istrinya ketika mati lampu dan didalam hutan, dan ketika itu banyak binatang-binatang liar disekitarnya, ya... begitulah!

Untuk mengalahkan Thohirin, hanya satu cara yang bisa dilakukan yaitu belajar sama orang yang mengajari Thohirin. Begitulah strateginya kawan!

Ayam hutan telah berkokok, pertanda senja akan tiba. Diperjalanan pulang ia berpapasan dengan Thohirin. Tatapannya tajam, luka lama kembali terbuka. Bukan hanya hatinya yang terluka, fisiknya pun ikut terluka. Kini ia semakin kurus kering, tak terawat. Cinta sejatinya dia khianati hanya karena ia belum bisa memberikan keturunan.

Thohirin, aku lebih baik mati dari pada kalah difestival pacuan kuda nanti!

Informasi beredar dengan sangat cepat, bahwa difestival pacuan kuda, peserta perempuan dilarang, begitulah hukum adatnya.

Hatiku sakit, masih sangat sakit, siapapun itu, tolong aku. Aku harus ikut festival pacuan kuda itu, hanya itu obat luka hati ini!

Arul datang membawa selembar kertas, perempuan penunggang kuda kembali tersenyum!

Bersambung!

Penulis : Taufiq Rahman