Ngopi ( ngoyos politik inkonstitusional ) -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Ngopi ( ngoyos politik inkonstitusional )

Friday, July 6, 2018

Muqaddim Djakra

Sebagaimana telah kita ketauhi bersama bahwasannya beberapa hari yang lalu telah dilaksanakan pilkada serentak di 17 provinsi dan 115 kabupaten yang ada di indonesia. Termasuk kabupaten alor juga ikut andil dalam pesta yang sarat dengan berbagai macam gaya dinamika di dalamnya.

Sebelumnya saya perkenalkan diri, saya adalah salah satu putra alor yang berkesempatan mencicipi dunia perguruan tinggi di kota malang. Namun, pada kesempatan ini saya mencoba memberikan sedikit kritikan saya terhadap dinamika perpolitikan dan isu-isu yang terjadi pada pemilihan kepala daerah di alor beberapa hari yang lalu.

Karena ketika berbicara perihal pilkada  atau sejenisnya pada era sekarang ini sangat jauh dari kata ideal, ideal dalam hal ini artinya  para elit politik yang sekarang menerapkan gaya-gaya berpolitik dengan menghalalkan segala cara. Walaupun saya percaya masih ada segelintir elit politik yang masih berada pada garis norma-norma berpolitik.

Jika kita semua percaya bahwa perubahan atau perkembangan suatu daerah atau bahkan negara itu tergantung sistim politik dan pelaku yang menerapkannya, maka secara tidak langsung dalam dunia perpolitikan memang ada norma-norma untuk berpolitik. tapi kita juga tidak memafikan bahwa para pelaku politik yang sering menyuarakan kemurnian berpolitik di atas panggung dan ketika berada di bwah panggung dia sendiri bercumbuh dengan setan dan memanipulasi sedemikian rupa agar disebut pahlawan.
Maka muncul pertanyaan, etika berpolitik seperti apa yang harus diterapkan para pelaku politik. Karena dalam menyelesaikan permasalahan politik memang diperlukan suatu analisa dan pengkajian secara mendalam untuk menemukan solusi-solusi perihal permasalahan tersebut. Karena permasalahan politik merupakan permasalahan yang disignifikan yang solusinya tidak bisa secara spontanitas.
Pada kenyataannya keberagaman suku, agama dll sangat mempengaruhi etika berpolitik di kabupaten alor.

Bagaimana tidak, mereka yang berkecimpun dalam dunia perpolitikan  dengan menjanjikan sebuah perubahan dan kemajuan ke arah yang lebih baik untuk kabupaten alor yang kita cintai bersama ini. Tapi ketika mereka sudah berhasil mendapat lebel no 1, seringkali melupakan tujuan atau janji-janji waktu itu. Entah sistem yang mengharuskan melupakan hal-hal seperti itu atau mereka memberi perubahan untuk golongan-golongan mereka saja.
Mungkin hal seperti ini sudah menjadi tradisi yang sulit di hilangkan. Namun, menurut saya kurang bijak juga ketika kita menjudge para pelaku politik dengan stigma-stigma negatif karena mungkin banyak juga diantara mereka yang masih mau berjuang mati-matian untuk memberikan perubahan yang lebih baik untuk bumi nusa kenari dan merombak segala sistim politik yang inskonstitusional di kabupaten alor.

Pada kesempatan ini saya bukan bermaksud untuk menjudge bahwa para elit politik di alor menerapkan gaya berpolitik melanggar nilai-nilai dalam berpolitik itu sendiri. tapi mungkin lewat tulisan ini mungkin para elit politik di kabupaten alor agar mereka bersikap konsisten terhadap tujuan mereka  dan ketika sudah berada di atas podium itu jangan hanya memikirkan golongannya saja tapi untuk rakyat alor tanpa terkecuali.

Penulis: Muqaddim Djakra
Status: Aktivist Mahasiswa HMI Malang