Masih Tentang Senja -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Masih Tentang Senja

Monday, July 9, 2018

Masih tentang Senja (Illustration)

Imdikatoralor.com- Aku masi teringat saat kemarin, saat dimana aku bercengkrama dengan senja kala itu. Diberanda kelas yang sepi masi tergambar dalam memori yang seakan enggan untuk beranjak. Saat itu telah lama pergi hilang ditelan gelap dan hari-haripun berlalu begitu sepi karena senja yang ku nanti tak kunjung nampak, dalam hatiku bertanya-tanya mungkinkah senja tak mau lagi menoleh? Ataukah senja sedang sibuk-sibuknya menunggu malam? Ataukah aku yang terlalu takut kehilangan senja.

Hari-haripun kujalani tanpa senja.walaupun sering berpapasan tapi senja seakan dingin. Senyum indahnya yang khas tak lagi kulihat, wajahnya yang begitu berseri tak lagi ceria seperti biasanya. Ingin sekali aku menghampiri dan menyapanya tapi aku bukanlah orang yang begitu berani. Aku hanyalah pemimpi yang hanya bisa menunggu lelap untuk bisa bermimpi tentang senjaku.

Saat aku sedang duduk didepan beranda kelas, tiba-tiba aku dikagetkan dengan dering ponsel yang ada disampingku. Berharap itu dari dia tapi bukan ternyata itu dari si Fredy. Fredy adalah sahabatku di kampung yang kebetulan sama-sama menimba ilmu disini. Dia menelpon dan mengajakku bertemu untuk berdiskusi tentang perkenbangan dan isu-isu hangat yang sementara beredar di kabupatenku. Karena merasa suntuk, dengan spontan akupun mengiyakan permintaannya.

Kamipun bertemu disebuah kedai kopi yang sederhana dipinggir jalan. Walaupun tempatnya kecil tapi selalu ramai dikunjungi. Ruangannya yang indah dan dihiasi dengan dekorasi yang natural seakan membawa kita untuk menikmati kopi dialam terbuka. Kami mengambil meja nomor 3 dan memesan dua kopi hitam dengan kadar gula rendah, maklum kami adalah penikmat kopi yang setia.

Dalam perbincangan yang begitu seru hingga tak disadari kalau kedai kopi sudah mau ditutup. Maklum karena perbincangan kami kali ini mengenai orang-orang hebat yang nantinya akan memimpin kabupaten kami pada tahun 2019 nanti. Aku merogo kocek dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dan meberikan ke fredy dan diapun bangkit menuju meja kasir untuk membayar pesanan kopi kami.

Sementara dia membayar tiba-tiba kubuka WhatsApp-ku dan tanpa sengaja aku membaca Bisikan senja yang tertuang dilayar ponsel. Secara spontan jariku langsung mengotak atik tombol HP ku untuk membalas status WhatsApp-nya karena kutau senjaku saat ini sedang gelisah sendiri. Aku takut kalau dia kenapa-kenapa dan jujur hati ini takan rela dikalau senjaku dirundung gelisah.

*

Gayungpun bersambut, tiba-tiba ada balasan dari senja yang bertuliskan "dimana ki k"? Bisa jaki kesini k"? Sendirian ka disini menunggu adeku". Tanpa berpikir panjang langsung ku jawab kalau aku sekarang langsung menuju ketempatnya. Langsung saja kupanggilkan sahabatku yang kebetulan mau pulang itu dan memintanya untuk mengantarkanku ketempat dimana senjaku berada. Diapun mengantarkanku dengan sepeda motor bututnya. Dalam perjalanan, hatiku tak tenang pikiranku selalu tertuju pada senja yang sedang sendiri disana rasa takutku semakin menjadi- jadi. Dalam cemasku aku memohon kepada Tuhan semoga tak terjadi apa-apa terhadap senja.

Akhirnya kamipun sampai ditempat dimana senja berada. Dari kejauhan mataku langsung tertuju pada senja yang duduk sendiri di tepi sudut yang gelap. Aku langsung beranjak mendekatinya hingga lupa berterimakasih pada sahabatku. Dalam hatiku bergumam maafkan aku sahabatku aku takut senjaku kenapa-napa dan berharap semoga sahabatku dapat mengerti dengan suasana hatiku saat ini.
Langsung saja kuhampiri senjaku dan menyapanya dengan rasa yang bercampur aduk. Diantara bermacam rasa itu yang paling menonjol adalah rasa takut kalau terjadi sesuatu terhadap dirinya.

Terimakasih ya Tuhan karena masih menjaga senja untuk aku sang pemimpi.
Aku langsung duduk disampingnya dan dengan spontanitas langsung kugenggam tangannya perlahan mencoba menghilangkan kerisauan yang beradu dihatinya senja. Lambat laun senjapun mulai tersenyum kembali. Kami berbicang-bincang dengan topik yang tak jelas karena aku begitu kehabisan kata- kata ketika berdekatan dengan senja. Bicaraku tak lagi teratur tapi kupaksakan diri untuk selalu mengajaknya berbicara agar hatinya tak selalu risau.

Waktu kini sudah menunjukan jam 00.30. Waktu yang tak lagi wajar untuk berdua, waktu yang seharusnya senjaku sudah terlelap. Iba hatiku melihat senjaku yang mulai diserang rasa kantuk. Sesekali dia menguap tandanya rasa ngantuk sudah memaksakan dia untuk segera pulang dan tidur dikamarnya yang hangat. Ku coba meyakinkan senja dan membuat dia untuk menahan diri sebentar lagi.

Selang 1 jam kemudian datanglah orang yang sangat dinantikan senja. Orang yang membuat senjaku rela menunggu di gelapnya malam dengan rasa ngantuk dan dinginnya malam. Ia dia adalah adiknya senja yang baru datang dari luar daerah. Akupun bersyukur karena senjaku tak lagi risau dan murung. Terimakasih malam kamu masih mengijinkan pemimpi untuk berjumpa dengan senja walaupun hanya sesaat.

Penulis: Andi Afkar