Literasi Untuk Gerakan Pembangunan Desa -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Literasi Untuk Gerakan Pembangunan Desa

Friday, July 13, 2018

Membangun Desa


Indikatoralor.com - Pendidikan adalah ruh dari cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia yang termaktub dalam alinea ke empat Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbunyi bahwa ”kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah dara Indonesia dan untuk kemajuan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam susunan Negara yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesa yang berkedaulatan Negara yang berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia ”.

Pembukaan UUD 1945 Alinea ke-empat ini sudah cukup menjadi landasan pendidikan yang seharusnya dilakukan di masyarakat, kemudian pada zaman digital ini kita akan menghaddapi berbagai persoalan sosial dan pendidikan yang menjadikan banyak kegelisahan di masyarakat dan ini lah yang mengakibatkan Indonesia perlu mempersiapkan generasi mileneal yang pancasilais dan berjiwa ke-nusantaraan berdasarkan kearifan local daerah masing-masing di Indonesia hal ini juga yang seharusnya  menjadi landasan dan dasar bagi pemerintah dan juga masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi generasi penerus bangsa dan menyadarkan masyarakat akan adanya kehidupan digital kali ini dan giat-giat dalam mengantisipasi setiap fenomena kehidupan pada zaman mileneal ini, dalam Prosesi pendidikan yang bisa dijadikan penopang bagi masyarakat adalah diberlakukan pada setiap lingkungan masyarakkat dalam struktur Negara berdasarkan skup terkecil yang kemudian dibangun sebuah strategi pengembangan yang didasari oleh kearifan local dan kebudayaan terkait, dan sekaligus  membangun etos masyarakat kita yang lebih baik dalam menjalankan kehidupan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan terkait pengembangan pendapatan dari masyarakat umum dan masyarakat ekonomi kelas bawah pada khususnya, sedangkan pada masyarakat di daerah terpencil yang belum mendapatkan pendidikan formal atau pendidikan apapun kita hadirkan dan bangkitkan semangat literasi dalam membangun dan mengembangkan capacity building masyarakat dan generasi masa depan dan melakukan kajian-kajian dalam masyarakat kecil/semacam diskusi dengan pemerintah setempat dan masyarakat sekitar guna melakukan apa saja yang menjadi program strategis di daerah sehingga menjadi kekuatan sosial ekonomi masyarakat.

Pemerintah adalah senjata dan masyarakat adalah anak pelornya, pemerintah harus pandai-pandai dalam memanfaatkan pendidikan didaerah seperti memperhatikan masyarakatnya dari berbagai aspek, seperti dari aspek sosial kemasyarakatan, budaya, pertahanan atau keamanan daerah hingga desa sekitar  dan yang terpenting adalah pembelajaran politik di daerah yang dirasa kurang massif dan merimpac pada masyarakat umum, masyarakat seharusnya ada pemompa semangatnya yaitu para generasi terdidik yang kemudian dikenal mahasiswa yang mana mahasiswa menjadi agen perubahan dalam menjalankan cita-cita kemerdekaan pada skup yang paling dasar seperti yang di jelaskan dalam tri darma perguruan tinggi, proses belajar mengajar di universitas (Pendidikan), Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini merupakan sesuatu hal yang sangat substansial dalam pelaksanaan pendidiikan didaerah yang kemudian harus di jalankan dengan baik dan tepat.

Pendidikan dari segala lini diperlukan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, dalam hal ini pendidkan yang ada di daerah terutama yang ada di masyarakat skup paling bawah adalah menjalankan pendidikan dari keluarga, orangtua dan kerabat di sekitar, saat ini idonesia mengalami masalah serius dalam urusan morality dan etos dalam masyarakat dimana oranng-orang lebih memilih menjual tanahnya dan beralih pekerjaan yang awalnya adalah petani di sawah yang kini memilih untuk menghentikan pertaninnya dan menjual tanahnya kepada infestor dan menjadikan ciri khas Indonesia yang tidak lagi hijau, kemudian generasi muda yang kini lebih candu pada social media dan menanggapi berbagai cara barat dengan mentah-mentah untuk meninggalkan kebiasaan majemuk masyarakat bangsa Indonesia, hari ini kita tidak memiliki taring dalam pengembangan pendidikan kebudayaan di basis pendidikan atau di perkampungan sekalipun dan mayarakat masih banyak yang kekurangan pekerjaan dan yang menjadi persoalan adalah kurang adanya sinergi antara pemerintah dan masyarakat, yang merupakan ujung tombak dari perkembangan di daerah seperti yang telah dijelaskan diatas guna mencapai kesejahteraan masyarakat.
Dalam melakukan sesuatu yang menjadi sebuah perhatian besar pula adalah hal-hal yang sudah digambarkan diatas kita harus memanfaatkan SDM (Sumberdaya Manusia) dengan baik dengan menjaringnya dari usia Belia/Diniah yang kemdian menjadikan sebuah sasaran dan tujuan generasi di masa depan yang lebih inovatif dan membangun, dan mempersiapkan layanan pendidikan sesuai dengan kearifan local di daerah-daerah.

Dalam pendidikan dari lingkungan RT/RW ini dibutuhkan orang yang minimal memiliki semangat juang yang tinggi untuk mempersiapkan generasi yang nantinya akan menjadi penggerak dan pelaksana dalam menjalanjan cita-cita pendidikan di daerah, perlu penyelarasan dalam cara berpandang dalam hal pendidikan pada generasi mileneal ini, akan menjadi sebuah boomerang ketika kita hanyaa mengikuti apa yang ada pada realitas masyarakat tanpa melakukan croos check/ mengklarifikasi terkait apa yang sedang mereka hadapi saat ini seperti maraknya informasi  Hoax yang menyebar begitu cepat dan tak terbendung dan berbagai scenario elit politik yang mencoba mengombang ambing bangsa Indonesia dan kini waktunya masyarakat sadar dan bangkit dari bawah bahwasanya kita perlu meningkatkan kehidupan bersosial di masyarakat/ reaktivasi kehidupan bersosial di masyarakat ini semoga bisa menjadi suatu gebrakaan dan sulusi bagi masyarakat madani dan tradisional di tanah bangsa Indonesia.

Kesadaran kebangkitan semangat literasi adalah wacana yang cukup kuat untuk meneguhkan konstruk pengetahuan di masyarakat bawah, tidak perlu terlihat mewah namun terobosan dan inovasi ini menjadi gaya baru revolusi pengetahuan dari dasar terendah yaitu dari tingkat masyarakat rukun tetangga hingga dusun di mana masyarakat berada, sekarang kira melihat adanya kesenjangan wawasan terkait dengan pemahaman kekeluargaan yang berdampak pada kacau-balaunya konstalasi gotongroyong yang ada di masyarakat, kini kita ketahui bahwa masyarakat di berbagai daerah membutuhkan sebuah penyadaran yang tidak perlu  diingatkan kepada generasi penggerak dan masyarakat yang telah sadar akan ketertinggalan pengetahuan ini, seperti yang dijelaskan dalam buku “Tan Malaka yang berjudul Aksi Massa” yang menjadi pembakar semangat giroh dalam menjalankan revolusi ini dalam bukunya ia mengatakan “satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadikan budak untuk selama-lamanya” dan tanmalaka pun berkata bahwa revolusi adalah menciptakan sesuatu.

Hal ini yang menjadikan kita sebagai generasi penerus, sudah selayaknya kita menjadi perintis dan penggerak untuk melindungi dan melestarikan kearifan local kita di daerah masing-masing. Itu adalah suatu pengejawantahan dari apa yang dimaksud semangat pemuda, kita sebagai pemuda sudah seharusnya mengembangkan apa yang menjadi potensi di darah terutama menyelamatkan generasi penerus/ adik-adik kita yang masih duduk di bangsu SD/SMP hingga SMA, membangunkan semangat memcaba dan meningkatkan rasa kecintaan pada budaya. kini kita seharusnya sudah sampai pada tahapan pemeliharaan bibit-bibit masa depan bangsa.

Dan kemudian terobosan ini dilaksanakan secara konsisten maka akan mendapatkan generasi yang memiliki etos kerja yang baik dan memiliki kualitas sebagai indivdu yang menguntungkan bagi masyarakat dan bangsa.

Penulis: M. Dinifajrian Djong
Status : Penulis merupakan Anggota Pimpinan PMII Cabang Malang.