Jalan Menuju Rumah -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Jalan Menuju Rumah

Sunday, July 8, 2018

Jalan menuju Rumah (Illustrator)

Oleh: Boni (Nama Pengarang)

Adalah sebuah kisah tentang seorang anak muda yang datang dari negeri Jauh, dimana lebih awal dirinya tersentuh oleh panasnya terpaan cahaya terang kala pagi bertahta. 

Dia merantau, dia mengembara dengan sejuta mimpi besarnya. Itulah si Boni, Pria Berkulit sawo matang, bermata agak minimalis dan mewarisi rambut sensual keriting Ayahnya.

Diantara hiruk pikuk dan kepadatan kota besar siang itu, si Boni mengayuh langka menggapai mimpinya, Mimpi untuk mengumpulkan berbagai macam pengetahuan di negeri rantau agar kemudian sepulangnya nanti ke tanah kelahirannya Boni dapat menerapkan itu dan menjadikan negerinya sebagai negeri yang tidak tertinggal seperti saat itu.

Inilah dia, sosok pemuda yang benar - benar berjuang dengan totalitas serta dengan tekat yang kokoh. Si Boni yang kini berdiri diantara dua jalur yang berlawanan, Jika diibaratkan seperti di jalan raya, kini si Boni berada diatas garis putih. Sementara arus penilaian terus berdatangan dari berbagai penjuru.

"Sekarang sumber air su dekat" itulah kalimat yang cukup intimidatif tentang ketertinggalan di negerinya. Ketandusan serta kekurangan air bersih di wilayah di sekitar pusat ibukota provinsinya menjadi bahan bullying yang strategis untuk Boni dan teman - temannya yang lain. Apa boleh buat, pahitnya juada terpaksa harus ditelan juga. Hanya satu tekat yang tertanam dalam benaknya, hari esok adalah cita - cita dan asa yang mesti ia gapai sebagai pembuktian bahwa ketertinggalan mutu ataupun kualitas pendidikan di daerahnya bukan penghalang bagi mereka yang gigih dalam berjuang.

Disinilah, lembaran perjuangan mulia Boni si Bocah kriting dengan cita - cita mulia itu dimulai.

Dalam perjalanannya, Berbagai macam kerikil - kerikil tajam yang menancap di bawah telapak kaki Boni. Lapar dan kekurangan uang Lauk, itu hal yang lumrah. Kadang ia merasa terasing ditengah lingkungan orang - orang yang secara fisik, Pemikiran serta bahasa yang berbeda. Juga dia terkadang diam - diam menitikan airmata kala melihat gambar sang pejuang kehidupan (Potret sang Ayah).


Langkah tetaplah harus terkayuh...
Boni tetap kokoh, dia percaya bahwa masanya akan tiba. Iya, masa dimana pergantian estafet dari para orang - orangtua di negerinya kini diambang pintu. Pastinya, anak - anak mudalah yang menjadi penerusnya. Tapi kenapa? Apatisme generasi semakin menggila?
Kenapa minuman keras dan tawuran masih saja terjadi. 

Dalam kebingungannya Boni tetap berdiri tegak seperti mercusuar ditanjung depan teluk. Wahai badai, Inilah saya... Boni yang malang, aku dan golonganku tidak akan mampu kau sapu dengan tiupanmu yang katanya kencang. Karena kami adalah The Leader Candidat. Kami sedang membangun Jalan menuju rumah.

Bersambung!!!