Bocah "Bobot Lumayan" -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Bocah "Bobot Lumayan"

Monday, July 9, 2018

Pemukiman diatas Bukit

Indikatoralor.com-Suara adzan bersahutan mengantar cahaya Jum'at,  Diranting pohon kelor samping gubuk reyot yang beratap ilalang dan berdinding anyaman bambu. Ayam - ayam berdesakan mencari posisi karena hari mulai gelap. Suara pekik, tangis mewarnai sinar merah jingga diambang barat negeri diatas bukit.

Merah membara langit petang itu memberi warna baru bagi pasangan suami istri paruh baya. Telah lahir putra ke dua mereka dengan bobot badan yang sungguh memuaskan. Iya,,, sungguh sangat memuaskan karena selama dalam kandungan ibunya, sang Bayi berbobot bukan main itu suka minta "Macam - macam". Dasar bayi keras kepala, banyak maunya. Jahannam!!!

Tapi, bukankah dia masih belum mengerti apa - apa?.

Ketika si Bayi lahir dengan tangisan entah rewel dan sombong macam apalagi itu,

ah... apakah benar tangisan itu artinya bahagia karena berhasil bertemu dengan Ayah sang penebar benih dan sang Ibu yang telah mengandungnya selama 9 bulan 10 hari dan sekian jam. Ataukah bagian dari ekspresi sesal dan rasa meruginya karena harus mampir ke Dunia yang isinya penuh dengan Kemunafikan, mulut - mulut kotor serta tangan - tangan bejat?

Tempatnya Setan merekrut pengikut sejatinya untuk menemani mereka di Neraka.

"Rahasia tangisan Itu, hanya dia dan penciptanya yang tahu"

Senada dengan hadirnya sang Bayi berbobot Lumayan, telah berpamitan juga dengan Dunia, sang guru ngaji, "Jou" Demikian orang kampung itu biasanya memanggil sang guru ngaji yang baru saja meninggalkan dunia yang penuh dengan Kemunafikan ini. Sungguh sebuah skenario yang maha dahsyat dari perancang skema hidup.

Tapi beberapa saat kemudian, Sang bayi berbobot lumayan tadi kini telah mereda tangisannya karena telah didekap hangat oleh sang bunda, wanita hebat yang telah memelihara titipan Tuhan dengan waktu yang tidak sebentar dalam rahimnya.

*

Masa menutut mentari terus terbit dan tenggelam. Hidup dibawah gubuk reot berdinding anyaman bambu, bukanlah sebuah kenaasan dan lambang buruknya nasib. Si sulung, kakak dari Bayi berbobot lumayan tadi, sangatlah ceria ketika tau bahwa telah diberikan teman bermain baru oleh ayah dan ibunya.

Si sulung sering memamerkan ke teman sebayanya kalau dia punya adik laki - laki yang nanti pasti akan mewarisi pakaian bekasnya. Eh... Bukan itu maksudanya, tapi yang akan menjadi teman bermainnya serta menjadi teman untuk membangkang orangtuanya. Namanya juga anak-anak yang kompak.

Suasana semakin menghangat kala si Bayi berbobot lumayan tadi tumbuh menjadi seorang bocah... Lucunya tidak ketulungan. Iya, penuh dengan kekonyolan.

Kini... Gubuk reyot yang mereka tempati terasa seperti istana mewah yang berisikan berbagai macam kisahnya. Kamar depan, tempat tidur si sulung dan Kaka sepupunya. Ruang depan tempat tidur Nenek yang suka membela ketika diadili oleh si Ibu yang galaknya minta ampun, ruang makan tempat piring kesayangan mereka ditata dengan rapi oleh ibunya. Hingga Dapur yang jebol dindingnya atau juga batu besar berbentuk seperti meja yang berada disudut timur tepat disebelah kamarnya si nenek.

Ayah sang bocah adalah seorang PNS (Pegawai Naas Sukarela) sebenarnya arti dari PNS tidaklah demikian, tapi artinya adalah Pegawai Negeri Sipil. Tapi, lagi Agi lagi arti sebelumnya adalah representasi dari nasib PNS masa itu.

Bayangkan saja,,, Beras jatah guru yang Di-Import dari India penuh dengan kutu, harga kebutuhan pokok yang tidak terjangkau serta tempat tinggalnya yang masih menumpang.

Sebagai seorang Guru, kerjanya adalah mendidik. Sang Ayah mendidik anak - anak bangsa yang nantinya ada diantara mereka akan muncul sebagai penindas baru, pencuri baru dan pencetak inovasi baru.

Jika nasib si Ayah yang kesejahteraannya tidak terjamin saat itu memanglah wajar, karena saat itu mulai berlangsung fenomena krisis Moneter yang menyerang Asia tenggara termasuk Indonesia. Beras bersatu dengan kutu, Nasib anak istri tak menentu serta harga kebutuhan pokok melaji tanpa diburu.

Maka akhirnya sang bocah Berbobot masuk sekolah mendapat hadiah ranking 23 di caturwulan pertama bersamaan dengan hengkangnya bapak Presiden yang diktatornya cetar membaha dari Istana Negara oleh gerombolan preman intelektual (Mahasiswa) hasil jahitan otak Amien Rais.

Penulis : Boni