Ayah, Aku Ingin Jadi Kepala Desa -->
Cari Berita

Advertisement

INDIKATOR ALOR

https://youtu.be/cE2YjO-Dc-k

Ayah, Aku Ingin Jadi Kepala Desa

Monday, July 2, 2018



Oleh: Taufik Rahman Syah, S.Pd
Aktivist Mahasiswa Malang Raya

Rio, kembali meniup serulingnya, memainkan alunan melodi indah, tepat di belakang kantor kepala Desa. Lagu yang sering ia nyanyikan, tikus tikus kantor, dari Bung Iwan Fals.

Rio, cukup terkenal di kampungku, itu bukan karena ia cerdas atau pun bodoh, tapi kenakalan dan keramahannya yang membuat warga kampung ingat kepadanya.

Begitupun dengan Nuraini anak kepala Desa yang aduhai itu. Jangan tanya seberapa cantik dirinya, bahkan pelangi pun meratap cemburu kala ia menyap.

"Nak, apa cita cita mu."
 Bisik sang Ayah.

"Ibu mu menginginkanmu menjadi guru. Ya guru bahasa Inggris. Agar kau kelak bisa keliling dunia. Itu harapan ibu mu sebelum meninggal."

Matahari masih berselimut diranjangnya, Rio menggiring kambing kambingnya ke atas gunung tempat padang safana terhampar. Disini adalah surga bagi para penggembala untuk memberi makan ternak-ternaknya.

Di puncak gunung, Rio menatap kampungnya, kampung yg terkenal dengan kota tepian air. Begitu strategis, hasil nelayan dan pertanian yang begitu melimpah. Peternakannya-pun berkembang drastis, tapi kenapa warga kampung ini tak pernah kaya dan masih sering mengikat perut lantaran tak punya makanan.

Sekarang musim kemarau, saatnya festival layang-layang dimulai. Di momen ini ku tahu satu hal,  bahwa Nuraini sangat suka beradu layang layang.

"Harus ku pasti kan bahwa layang layangku yang terbaik." Rio membatin.

Senja masih berwarna merah, Rio bergegas menggiring kambing-kambingnya untuk pulang. Ia teringat pertanyaan ayahnya waktu itu. Ia semakin yakin,  harus menjadi apa.

Festival layang layang hampir selesai sudah bisa di pastikan bahwa layang layang terbaik menjadi milik Nuraini. Juara bertahan saudara Rio tidak ikut berpartisipasi dalam festival ini  karena suatu alasan tertentu.

Mayoritas warga kami adalah petani tapi kenapa yang hidup kenyang hanya bisa dirasakan tengkulak - tengkulak itu?

Kami berhutang sana sini untuk menyambung hidup dan hasil pertanian kami hanya cukup untuk bayar hutang dan beli sekantung beras,  untuk beberapa hari. Terpaksa anak-anak kami tak sekolah dan ujung-ujungnya kembali jadi petani,  atau penggembala  ternak. Tapi apapun itu kami tetap bersyukut terhadap hidup yang kami jalani. Apakah materi bisa memjamin tidur nyenyak atau makan enak. Kurasa belum tentu.

"Ayah, ku dengar di Radio, kemiskinan dan kemakmuran di tentukan oleh sistem politik,  ku yakin kampung ini bisa lebih baik dan tak melarat lagi jika aku menjadi kepala Desa."

"Ayah ku ingin menjadi kepala Desa."

 "Ya kepala Desa."

"Ku pikir,  untuk maju menjadi kepala Desa perlu modal besar".

"Ah... tapi, dengan gratis kurasa juga bisa. Ya ya kurasa bisa."

Ibu Nining istri kepala Desa sedang sakit keras. Penyakitnya sampai sekarang belum ada obatnya. Tapi beliau sangat suka mendengar alunan seruling,  dengan begitu beliau bisa sedikit tenang. Setiap sore Rio selalu pergi ke rumah pak kepala Desa, satu hal yang selalu bisa membuat nya nyaman, melihat Nuraini duduk didepannya sambil tersenyum,  sudah cukup mebuatnya melayang.

Rio tampak murung, kejadian minggu lalu membuat nya tak mau hidup lagi, ia harus merelakan Nuraini dipinang orang lain didepan matanya. Arul,  iya, Arul adalah teman sesama penggembala. Siapa cepat dia dapat adalah istilah yang bisa menggambarkan kondisi saat itu. Rio begitu menyesal.

Tujuan Rio menjadi kepala Desa adalah supaya petani di kampungnya makmur, hasil panennya bisa di jual dengan mahal, perairan untuk pertanian lancar, tidak ada lagi yang bunuh diri dengan alasan ekonomi. Warga kampung harus bangga dengan profesi petani. Kami petani dan kami bangga.

Ayah restu mu adalah restu Tuhan. Ayah dan ibu tenang dialam sana. Rio memang gagal dalam urusan cinta tapi dalam urusan politik, Rio yakin bisa jadi kepala Desa.

*